Bisnis / Ekopol
Senin, 06 April 2026 | 12:34 WIB
Kasus dugaan penipuan yang menjerat perusahaan Presiden AS, Donald Trump serta anak-anaknya memasuki babak baru. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz guna menghindari serangan militer pada Senin (6/4/2026).
  • Ketegangan geopolitik tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 1,4 persen di pasar keuangan kawasan Asia-Pasifik.
  • Investor merespons ancaman tersebut dengan mengalihkan aset, sementara pasar menantikan rilis data ekonomi makro penting dari Amerika Serikat.

Suara.com - Pasar keuangan di kawasan Asia mengawali perdagangan Senin (6/4/2026) dengan dinamika yang sangat kontras. Harga minyak mentah melonjak tajam, nilai obligasi merosot, sementara bursa saham bergerak bervariasi.

Situasi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Teheran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Presiden Trump memperingatkan akan adanya "neraka" jika Iran tidak memenuhi tenggat waktu pembukaan jalur pelayaran vital tersebut.

Ancaman berulang untuk menghancurkan infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik dan jembatan jika Selat Hormuz tidak dibuka pada hari Selasa, membuat para pelaku pasar khawatir akan adanya serangan balasan dari Iran terhadap target-target di negara-negara Teluk.

Meskipun likuiditas pasar cenderung tipis karena banyak negara di kawasan Asia sedang menjalani hari libur, indeks berjangka S&P 500 e-mini terpantau turun 0,2 persen.

Sebaliknya, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang menguat 0,5 persen. Di bursa regional lainnya, Nikkei 225 Jepang naik 1,2 persen, diikuti oleh indeks Kospi Korea Selatan yang melaju signifikan sebesar 2 persen.

Dikutip via Reuters, kontrak berjangka minyak Brent dibuka menguat 1,4 persen ke level USD 110,58 per barel.

Kenaikan ini terjadi meskipun anggota OPEC+ telah sepakat pada hari Minggu kemarin untuk menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan Mei.

Namun, para analis menilai tambahan produksi tersebut hanyalah angka di atas kertas, mengingat banyak fasilitas produksi dan infrastruktur transportasi negara-negara produsen utama di balik Selat Hormuz telah mengalami kerusakan parah sejak perang meletus.

Baca Juga: Iron Dome Jebol, Serangan Rudal Iran Hantam Haifa Israel Akibatkan Bayi Luka Parah

Fokus Pasar: Antara Geopolitik dan Data Makro AS

Ed Yardeni, Presiden dan Kepala Strategi Investasi Yardeni Research, mengungkapkan bahwa pekan ini pasar akan tetap didominasi oleh perkembangan di Timur Tengah.

Namun, perhatian investor juga akan terbagi dengan rilis data ekonomi penting di Amerika Serikat.

"Pekan ini akan didominasi oleh isu Timur Tengah, meski rilis data besar seperti notulensi rapat FOMC Maret, pendapatan pribadi Februari, dan inflasi (CPI) Maret akan ikut bersaing memperebutkan perhatian pasar," jelas Yardeni, dikutip via Reuters.

Dalam laporan risetnya, Yardeni juga menyoroti peringatan keras Trump yang menyebut hari Senin ini sebagai "Obliteration Day" atau hari pemusnahan, di mana militer AS mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran jika jalur laut strategis tersebut tidak segera dibuka.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan dengan penambahan 178.000 lapangan kerja non-pertanian pada Maret. Angka pengangguran pun turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen.

Load More