- Serangan udara militer Amerika Serikat dan Israel di Provinsi Teheran menewaskan sedikitnya 13 warga sipil, termasuk enam anak-anak.
- Gempuran udara tersebut menyasar infrastruktur pemerintah Iran serta kawasan pemukiman warga di Kabupaten Baharestan dan wilayah timur Teheran.
- Mantan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ditegur pemerintah setelah mengusulkan peta jalan damai terkait nuklir dan sanksi internasional.
Suara.com - Eskalasi serangan udara yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran dilaporkan telah memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Laporan terbaru dari kantor berita Fars menyebutkan bahwa enam anak-anak tewas dalam rangkaian serangan yang menghantam Provinsi Teheran pada malam hari.
Berdasarkan informasi terkini via Aljazeera, korban terdiri dari empat anak perempuan dan dua anak laki-laki yang semuanya berusia di bawah 10 tahun.
Tragedi ini terjadi menyusul serangan yang menyasar kawasan pemukiman di Kabupaten Baharestan, Provinsi Teheran. Berdasarkan data sementara, total korban tewas dalam serangan di wilayah tersebut mencapai 13 orang.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukannya telah "menyelesaikan gelombang serangan" yang menargetkan berbagai infrastruktur pemerintah Iran di ibu kota.
Namun, media lokal melaporkan bahwa dampak ledakan juga menghantam area hunian, termasuk di bagian timur Teheran yang menewaskan sedikitnya empat orang lainnya.
Kontroversi Usulan Damai Mohammad Javad Zarif
Di tengah situasi perang yang semakin mencekam, dinamika politik internal Iran turut memanas. Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dilaporkan menerima teguran keras dari otoritas terkait setelah dirinya mempublikasikan sebuah artikel di majalah Foreign Affairs.
Dalam artikel tersebut, Zarif mengajukan sebuah "peta jalan" atau proposal untuk mengakhiri peperangan.
Baca Juga: Pengamat Uhamka Nilai Indonesia Terancam Terjebak Invisible Trap di Tengah Konflik Iran-AS
Namun, kantor berita Fars menyatakan bahwa tulisan tersebut dianggap "bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional," meskipun tidak dijelaskan secara rinci bentuk teguran yang diberikan kepada diplomat senior tersebut.
Dalam argumennya, Zarif menekankan bahwa memperpanjang konflik mungkin memberikan "kepuasan psikologis" bagi pihak tertentu di Teheran, namun dampaknya justru akan berujung pada hilangnya lebih banyak nyawa warga sipil dan kehancuran total infrastruktur negara.
Sebagai jalan keluar, Zarif mengusulkan agar Iran bersedia memberikan batasan pada program nuklirnya serta berkomitmen untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas energi dunia.
Langkah tersebut, menurut Zarif, harus dilakukan dengan imbalan pencabutan seluruh sanksi internasional yang saat ini membelit ekonomi Iran.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan melunakkan posisinya terhadap tuntutan pembukaan Selat Hormuz.
Sementara itu, gempuran udara terhadap pusat-pusat komando dan fasilitas pemerintah di Teheran masih terus berlangsung, meningkatkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan yang lebih dalam di wilayah tersebut.
Berita Terkait
-
Media Iran Bongkar Kejanggalan Operasi Penyelamatan Pilot AS: Narasinya Hollywood Banget
-
Respons Ketegangan di Selat Hormuz, Jepang Aktifkan Saluran Darurat ke Iran
-
Trump Singgung 'Hari Pemusnahan' Iran: Ancam Ekonomi Global, Harga Minyak Terbang!
-
Saat Kedubes Iran Ramai-ramai Balas Ancaman Trump Secara 'Selow'
-
Harga Produk di Jakarta Berangsur Naik Imbas Perang Iran, Pramono Anung: Inflasi Masih Terjaga
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Amsal Sitepu Bebas, Ahmad Sahroni Ingatkan Nasib Terdakwa Lain: Kejagung Harus Bertindak
-
Kasus TB RI Tembus 1 Juta, Wamenkes Ungkap 300 Ribu Belum Ditemukan
-
Media Iran Bongkar Kejanggalan Operasi Penyelamatan Pilot AS: Narasinya Hollywood Banget
-
Respons Ketegangan di Selat Hormuz, Jepang Aktifkan Saluran Darurat ke Iran
-
Jeritan Pemilik Warung Madura: Harga Plastik Naik Dua Kali Lipat, Modal Makin Terkuras
-
Soroti Laporan 'ABS' Pakai AI di JAKI, Anggota Komisi A DPRD DKI: Ini Alarm Bagi Pelayan Publik!
-
Saat Kedubes Iran Ramai-ramai Balas Ancaman Trump Secara 'Selow'
-
Bahas RUU Perampasan Aset, Sahroni Wanti-wanti Jangan Jadi Ajang 'Abuse of Power' dan Hengky-Pengky
-
DPR Apresiasi Kejagung Tindak Tegas Jaksa Kejari Karo: Pelajaran untuk Semua!
-
Buntut Kasus Gus Yaqut, KPK Periksa Bos Gema Shafa Marwa hingga Aero Globe Indonesia