- Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan lingkungan, pengelolaan air tidak lagi sekadar urusan distribusi.
- Kini, pendekatannya mulai bergeser ke arah yang lebih berkelanjutan lewat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
- Dan tanpa disadari, ini pelan-pelan jadi bagian dari gaya hidup modern.
Suara.com - Air bersih mungkin terdengar seperti kebutuhan dasar yang selalu ada. Tinggal buka keran, selesai. Tapi di balik kemudahan itu, ada proses panjang yang kini mulai berubah—bukan hanya soal teknis, tapi juga soal cara pandang.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan lingkungan, pengelolaan air tidak lagi sekadar urusan distribusi. Kini, pendekatannya mulai bergeser ke arah yang lebih berkelanjutan lewat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Dan tanpa disadari, ini pelan-pelan jadi bagian dari gaya hidup modern.
Pendekatan ini mendorong perusahaan untuk berpikir lebih jauh: bagaimana air yang disalurkan tidak hanya cukup, tapi juga aman, efisien, dan tidak membebani lingkungan dalam jangka panjang.
Salah satu contoh implementasinya terlihat dalam pengelolaan sistem penyediaan air minum skala besar seperti yang dilakukan PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ). Di sini, ESG tidak lagi ditempatkan sebagai formalitas, melainkan fondasi utama dalam menjalankan bisnis.
“ESG bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi bagaimana perusahaan bisa beradaptasi dan tumbuh. Ini adalah strategi diferensiasi kami, sekaligus financing gateway untuk membuka akses pendanaan yang lebih luas,” ujar Direktur Utama WTJJ, Rendy Ardiansyah.
Perubahan ini dimulai dari dalam, mulai dari penyelarasan visi hingga pola pikir seluruh tim. Karena tanpa kesamaan cara pandang, konsep keberlanjutan sulit diterjemahkan menjadi aksi nyata.
“Kami mulai dari mental modeling. Ketika seluruh organisasi memiliki visi yang sama, barulah ESG bisa diterjemahkan menjadi nilai yang kredibel bagi investor,” jelasnya.
Di level operasional, ESG hadir dalam bentuk yang lebih konkret. Salah satunya lewat efisiensi energi, yang menjadi komponen biaya terbesar dalam pengelolaan air.
Untuk mengatasinya, teknologi seperti variable speed drive diterapkan pada hampir seluruh pompa. Sistem ini memungkinkan penggunaan listrik disesuaikan secara real-time dengan kebutuhan, sehingga lebih hemat energi sekaligus lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
Selain itu, pemanfaatan energi terbarukan dan sistem manajemen energi juga mulai diintegrasikan. Langkah ini bukan hanya menekan emisi, tapi juga membuat biaya operasional lebih fleksibel dan tahan terhadap fluktuasi.
Pendekatan berkelanjutan ini ternyata juga berdampak pada sisi finansial. Pada 2025, perusahaan berhasil melakukan refinancing menjadi pendanaan hijau senilai Rp1,29 triliun—menunjukkan bahwa praktik ESG kini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.
Pengakuan juga datang dari level global. Berdasarkan penilaian S&P Global pada Februari 2026, perusahaan mencatat skor ESG sebesar 55, menempatkannya di peringkat pertama di Indonesia dan masuk lima besar dunia untuk kategori water.
Namun, dampak paling terasa justru ada di kehidupan sehari-hari. Infrastruktur seperti SPAM Regional Jatiluhur I, misalnya, kini melayani sekitar 2 juta jiwa di wilayah Jakarta, Bekasi, hingga Karawang.
Dengan kapasitas 4.750 liter per detik, sistem ini membantu mengurangi ketergantungan pada air tanah—yang selama ini jadi salah satu penyebab penurunan kualitas lingkungan di kota-kota besar.
Menggunakan air permukaan dari Waduk Jatiluhur, layanan ini memastikan pasokan air bersih yang lebih aman, stabil, dan berkelanjutan. Sesuatu yang mungkin tidak terlihat langsung, tapi sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat.
“Investment is not just about funding schemes, but a long-term commitment to sustainable water,” kata Rendy.
Pada akhirnya, pengelolaan air berbasis ESG menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan lagi isu yang jauh dari keseharian. Justru sebaliknya, ia hadir dalam hal-hal paling dekat—air yang kita minum, gunakan, dan andalkan setiap hari.
Dan di situlah letak perubahannya: ketika air bersih tidak lagi hanya soal akses, tapi juga soal bagaimana kita menjadikannya bagian dari gaya hidup yang lebih sadar, sehat, dan berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kabut Asap, Dinas Kesehatan Riau Siapkan 18 Ribu Masker untuk Pelalawan
-
Aturan Feng Shui Dapur, Jangan Biarkan Rezeki Hangus karena Salah Letak Kompor
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan