Dalam prosesnya, Nada melihat adanya jurang antara mereka yang sudah menjalani gaya hidup sustainable living dengan mereka yang baru ingin memulai. Di ruang digital, ia kerap menemukan pendekatan yang terkesan ekstrem, bahkan menuntut kesempurnaan.
Menurutnya, hal itu justru membuat banyak orang merasa tidak mampu.
“Ada kesan harus langsung sempurna, padahal itu justru bikin orang mundur,” katanya.
Karena itu, ia memilih mengambil posisi yang berbeda. Alih-alih menghakimi, ia mencoba menjadi jembatan—menghadirkan pendekatan yang lebih ramah, bertahap, dan realistis. Ia ingin orang merasa bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, tanpa tekanan untuk langsung benar sepenuhnya.
Belajar Cukup di Tengah Dunia yang Menuntut Lebih
Perubahan gaya hidup ini perlahan mengubah cara Nada memaknai hidup. Dari yang sebelumnya dipenuhi kecemasan dan dorongan untuk terus mengejar, kini ia mengaku lebih tenang dan mampu menerima ritme yang lebih lambat.
“Sekarang lebih berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar kejar target,” ujarnya.
Perubahan itu juga tercermin dalam pilihan-pilihan yang ia ambil. Aktivitas seperti edutrip ke Bantar Gebang, yang secara materi tidak selalu menguntungkan, tetap ia jalankan karena memberikan dampak yang lebih luas bagi orang lain.
Di akhir percakapan, Nada merangkum perjalanannya dalam satu kalimat sederhana:
Baca Juga: Kolaborasi Pembiayaan Hijau Kian Digenjot, Sasar Kelestarian Hutan dan Ekonomi Petani
“Sedikit-sedikit supaya tidak sulit.”
Di tengah dunia yang terus mendorong untuk lebih cepat, lebih banyak, dan lebih produktif, pilihan untuk berjalan perlahan dan merasa cukup mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Nada, di situlah letak perubahan paling mendasar, sebuah cara untuk kembali memaknai hidup, tanpa harus selalu merasa kurang.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Review Buku Milenial Bisa Memimpin: Panduan Jadi Leader di Tengah Perubahan Zaman
-
Promo Khusus Member Superindo 21-27 Mei 2026: Popok Bayi hingga Skincare Jadi Murah Banget
-
Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
-
6 Cushion Non-Comedogenic untuk Makeup Mulus Tanpa Khawatir Wajah Breakout
-
Hair Dryer Canggih Hadir dengan Teknologi Ion dan Kolagen untuk Rambut Lebih Sehat
-
4 Ide Olahan Daging Sapi Kurban yang Tahan Lama untuk Stok Anak Kos
-
7 Destinasi Wisata Terbaik di Bengkulu yang Wajib Dikunjungi Wisatawan
-
Banyak Orang Baru Sadar, Memisahkan Uang per Kebutuhan Bikin Finansial Lebih Aman
-
Bolehkan Puasa Arafah tapi Masih Punya Utang Puasa Ramadan? Ini Penjelasannya
-
3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe