Lifestyle / Female
Selasa, 07 April 2026 | 15:28 WIB
Profil Nada Arini Seorang Ibu yang Menjalani Sustaiable Living (Tiktok/@nada_arini)

Dalam prosesnya, Nada melihat adanya jurang antara mereka yang sudah menjalani gaya hidup sustainable living dengan mereka yang baru ingin memulai. Di ruang digital, ia kerap menemukan pendekatan yang terkesan ekstrem, bahkan menuntut kesempurnaan.

Menurutnya, hal itu justru membuat banyak orang merasa tidak mampu.

“Ada kesan harus langsung sempurna, padahal itu justru bikin orang mundur,” katanya.

Karena itu, ia memilih mengambil posisi yang berbeda. Alih-alih menghakimi, ia mencoba menjadi jembatan—menghadirkan pendekatan yang lebih ramah, bertahap, dan realistis. Ia ingin orang merasa bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, tanpa tekanan untuk langsung benar sepenuhnya.

Belajar Cukup di Tengah Dunia yang Menuntut Lebih

Perubahan gaya hidup ini perlahan mengubah cara Nada memaknai hidup. Dari yang sebelumnya dipenuhi kecemasan dan dorongan untuk terus mengejar, kini ia mengaku lebih tenang dan mampu menerima ritme yang lebih lambat.

“Sekarang lebih berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar kejar target,” ujarnya.

Perubahan itu juga tercermin dalam pilihan-pilihan yang ia ambil. Aktivitas seperti edutrip ke Bantar Gebang, yang secara materi tidak selalu menguntungkan, tetap ia jalankan karena memberikan dampak yang lebih luas bagi orang lain.

Di akhir percakapan, Nada merangkum perjalanannya dalam satu kalimat sederhana:

Baca Juga: Kolaborasi Pembiayaan Hijau Kian Digenjot, Sasar Kelestarian Hutan dan Ekonomi Petani

“Sedikit-sedikit supaya tidak sulit.”

Di tengah dunia yang terus mendorong untuk lebih cepat, lebih banyak, dan lebih produktif, pilihan untuk berjalan perlahan dan merasa cukup mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Nada, di situlah letak perubahan paling mendasar, sebuah cara untuk kembali memaknai hidup, tanpa harus selalu merasa kurang.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More