Suara.com - Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) viral dan menjadi sorotan setelah beredarnya percakapan yang dinilai mengandung unsur objektifikasi dan candaan tidak pantas.
Meski beberapa pihak yang terlibat telah menyampaikan permintaan maaf, kasus ini tetap ditindaklanjuti secara serius oleh pihak kampus.
Peristiwa ini menjadi contoh nyata bahwa penting untuk mengenal rape culture pyramid, yaitu konsep yang menjelaskan bagaimana kekerasan seksual terbentuk secara bertahap dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering dianggap normal dalam masyarakat.
Dalam kasus mahasiswa FH UI tersebut, perilaku yang terjadi belum sampai pada kekerasan fisik, tetapi sudah berada pada tahap awal yang cukup mengkhawatirkan, yaitu ketika sikap atau candaan bernuansa seksis mulai dianggap biasa.
Berikut penjelasan rape culture pyramid yang menunjukkan bahwa kekerasan seksual tidak terjadi tiba-tiba, tetapi berawal dari hal-hal kecil yang dinormalisasi.
Apa Itu Rape Culture Pyramid?
Mengutip dari Buku Saku KS FISIP UNPAD, rape culture pyramid adalah sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana budaya kekerasan seksual tumbuh dan berkembang di masyarakat.
Bentuknya seperti piramida karena terdiri dari beberapa tingkatan, mulai dari perilaku yang tampak ringan di bagian bawah hingga tindakan kekerasan serius di bagian puncak.
Konsep ini lahir dari perkembangan panjang kajian tentang kekerasan berbasis gender, termasuk pemikiran tokoh seperti Susan Brownmiller.
Baca Juga: Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
Rape culture pyramid menunjukkan bahwa budaya, sikap, dan kebiasaan sehari-hari memiliki peran besar dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya kekerasan seksual.
Dengan kata lain, tindakan seperti pemerkosaan atau pelecehan berat bukan muncul begitu saja. Semua itu berakar dari hal-hal kecil yang terus dibiarkan dan dianggap normal dalam kehidupan sosial.
Struktur Rape Culture Pyramid
Rape culture pyramid umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan utama. Setiap level menunjukkan bagaimana perilaku berkembang dari yang tampak sepele hingga menjadi kekerasan nyata.
1. Level Dasar: Normalization (Pewajaran)
Ini adalah fondasi dari piramida, berisi perilaku sehari-hari yang sering dianggap biasa, padahal sebenarnya bermasalah.
Contohnya seperti candaan seksis, komentar bernada seksual, hingga anggapan “laki-laki memang seperti itu”. Catcalling di jalan juga sering dianggap hal sepele, padahal bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terancam.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Dari Sunset hingga Pertunjukan Musikal, Ini 5 Cara Seru Menghabiskan Libur Panjang di Jakarta
-
Biaya Umrah di Hanania Travel Berapa? Disorot Usai Owner Tersandung Kasus Penipuan
-
Bulan Juni 2026 Ada Berapa Tanggal Merah? Cek Jadwal Libur dan Cuti Bersama
-
Keren! Remaja Ini Teliti Teh Kombucha Jadi Inovasi Medis Perban Ramah Lingkungan
-
30 Ucapan Hari Waisak 2026 Singkat Penuh Makna, Lengkap Link Twibbon dan Poster Siap Pakai
-
3 Shio Paling Beruntung Selama 1-7 Juni 2026, Hidup Diprediksi akan Lebih Baik
-
25 Link Poster Ucapan Hari Raya Waisak 2026 Gratis, Bisa Langsung Download dan Dibagikan
-
Qurban Era Digital: Bagaimana Teknologi Mengubah Tradisi Idul Adha di ASEAN
-
Lebih dari Sekadar Kurban, Iduladha Juga Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Energi Ceria Khas Brasil Hadir dalam Koleksi Sandal Penuh Warna