- Objektifikasi perempuan merupakan perlakuan terhadap perempuan sebagai objek fisik yang mereduksi martabat, hak asasi, dan otonomi individu tersebut.
- Sebanyak 16 mahasiswa FH UI melakukan pelecehan seksual verbal terhadap 27 korban melalui grup percakapan pada April 2026.
- Dampak objektifikasi memicu gangguan kesehatan mental serta menuntut adanya pendidikan kesetaraan dan sanksi tegas bagi para pelaku pelecehan.
Suara.com - Objektifikasi perempuan adalah salah satu bentuk diskriminasi gender yang paling halus sekaligus berbahaya.
Secara sederhana, objektifikasi terjadi ketika seorang perempuan diperlakukan bukan sebagai manusia utuh yang memiliki pikiran, perasaan, kehendak, dan martabat, melainkan hanya sebagai “objek” yang dinilai berdasarkan penampilan fisik dan daya tarik seksual semata.
Menurut teori objektifikasi yang dikembangkan oleh filsuf Martha Nussbaum, praktik ini mencakup beberapa ciri utama: perempuan dipandang sebagai alat, tidak memiliki otonomi sendiri, bahkan dianggap bisa “dimiliki” atau “dikonsumsi” oleh orang lain.
Akibatnya, nilai seorang perempuan direduksi hanya pada tubuhnya—payudaranya, pinggulnya, wajahnya—sementara kecerdasan, kepribadian, dan hak asasinya diabaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, objektifikasi muncul dalam berbagai bentuk. Contohnya iklan yang memamerkan tubuh perempuan untuk menjual produk, lelucon cabul di tempat kerja, komentar “puji-pujian” yang sebenarnya merendahkan, hingga konten media sosial yang mengunggah foto perempuan hanya untuk dinilai “hot” atau tidak.
Dampaknya sangat nyata. Perempuan yang terus-menerus diobjektifikasi cenderung mengalami self-objectification, yaitu menilai diri sendiri dari sudut pandang orang lain. Hal ini memicu kecemasan tubuh, gangguan makan, depresi, dan bahkan menurunkan kepercayaan diri dalam karier maupun pendidikan.
Kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pada April 2026 menjadi cermin paling ironis sekaligus menyedihkan dari objektifikasi perempuan di lingkungan akademik.
Sebanyak 16 mahasiswa FH UI angkatan 2023 diduga melakukan pelecehan seksual verbal melalui grup chat WhatsApp dan LINE. Mereka saling berbagi komentar mesum, mengomentari tubuh mahasiswi, bahkan dosen perempuan, seolah-olah para korban hanyalah objek fantasi seksual.
Jumlah korban tercatat mencapai 27 orang yang terdiri dari 20 mahasiswa dan 7 dosen. Percakapan tersebut akhirnya bocor ke publik melalui tangkapan layar, yang langsung memicu kemarahan civitas akademika.
Baca Juga: Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?
Ironinya, para pelaku adalah mahasiswa Fakultas Hukum. Mereka yang seharusnya paling paham tentang hak asasi manusia, Undang-Undang TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual), dan etika profesi.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FH UI langsung mengecam keras, mencabut keanggotaan aktif Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) bagi ke-16 pelaku, dan mendesak kampus menjatuhkan sanksi maksimal termasuk drop out (DO).
Kasus FH UI mengingatkan kita bahwa objektifikasi perempuan bukanlah “hal biasa” atau “guyonan”. Ketika mahasiswa hukum—calon penegak hukum—sudah terbiasa memperlakukan perempuan sebagai objek, maka bagaimana mungkin mereka kelak bisa melindungi korban kekerasan seksual di masyarakat?
Untuk mencegah objektifikasi perempuan, diperlukan pendekatan holistik. Pertama, pendidikan gender dan kesetaraan harus menjadi mata kuliah wajib sejak SMA hingga perguruan tinggi.
Kedua, kampus harus memiliki mekanisme pelaporan pelecehan yang cepat, rahasia, dan tanpa stigma. Ketiga, orang tua dan media perlu berhenti mengajarkan anak laki-laki bahwa nilai perempuan terletak pada penampilan fisik.
Terakhir, setiap individu—terutama laki-laki—harus belajar melihat perempuan sebagai rekan setara, bukan objek.
Kasus 16 mahasiswa FH UI bukan akhir dari objektifikasi perempuan, melainkan alarm keras. Jika calon-calon intelektual terbaik negeri ini saja masih terjebak pola pikir patriarki, maka perubahan budaya harus dimulai sekarang juga. Perempuan bukan objek. Perempuan adalah manusia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Bom Rakitan Siswa MAN 3 Padang Jadi Alarm, Sosiolog UGM Soroti Bahaya Copycat Crime
-
Mahfud MD Usul KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Begini Reaksi Istana
-
Novel Will's Race for Home: Petualangan Mengharukan Berlatar Oklahoma Land
-
4 Shio yang Menarik Keberuntungan Mulai 16 Juli 2026 Menurut Astrologi Tiongkok
-
Mengapa Rumah Anggota BPK Bobby Rizaldi Digeledah KPK di Kasus Audit Muara Enim?
-
Menelisik Lebih Dalam Series Human Vapor, Bisakah Korban Disebut Monster?
-
Tecno Pova 8 5G Resmi Hadir, Baterai 8.000mAh Tahan 2 Hari dan Harga Mulai Rp3,9 Juta
-
Usai Kapolri Temui Jaksa Agung, Giliran Kajati dan Kapolda Pamer Soliditas
-
4 Moisturizer Aman untuk Remaja Perbaiki Skin Barrier Harga Murah Rp40 Ribu
-
Modal Bisa dari Mana Saja, Pramono Tegaskan JPO Tendean Tetap Dibangun Ulang