Bisnis / Keuangan
Rabu, 15 April 2026 | 07:47 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo. [Antara]
Baca 10 detik
  • Investor global tetap percaya pada ketahanan ekonomi Indonesia berkat kebijakan makroekonomi yang stabil serta konsisten sejak tahun 2026.
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menerapkan strategi suku bunga dan fiskal disiplin untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
  • Sinergi kebijakan moneter dan fiskal dilakukan guna menghadapi risiko fragmentasi geopolitik serta volatilitas pasar keuangan dunia saat ini.

Suara.com - Di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, ekonomi Indonesia tetap mendapatkan kepercayaan penuh dari para investor global.

Salah satunya, kredibilitas kebijakan pemerintah dan konsistensi dalam menjaga stabilitas makroekonomi dinilai sebagai faktor utama yang membuat daya tahan ekonomi nasional tetap kokoh dibandingkan negara-negara lain.

Adapun, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menekankan bahwa bauran kebijakan Bank Indonesia terus diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Kami akan terus memastikan bauran kebijakan yang konsisten dan responsif untuk menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global," ujar Perry dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Dalam pertemuan dengan para pemodal internasional, Perry menjelaskan bahwa strategi Bank Indonesia saat ini berfokus pada ketahanan eksternal.

Hal ini dilakukan melalui pengelolaan suku bunga yang cermat, intervensi valuta asing yang terukur, serta penguatan likuiditas domestik.

Ilustrasi mata uang asing. [Pixabay]

Langkah moneter tersebut juga didukung oleh komitmen fiskal pemerintah yang disiplin, yakni menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen PDB.

Reformasi subsidi dan realokasi anggaran ke sektor produktif menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan finansial negara di mata dunia.

Selain bertemu investor, Bank Indonesia juga terlibat dalam diskusi mendalam bersama Profesor Harvard Jeffrey A. Frankel dan pakar ekonomi M. Chatib Basri.

Baca Juga: Putusan KPPU Soal Pindar Tuai Polemik, Investor Fintech Disebut Bisa Hengkang

Diskusi bertajuk “Stability in an Age of Shocks: Rethinking Macro Policy in a Fragmented World" ini menyoroti risiko fragmentasi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan yang kian sulit diprediksi.

Menanggapi tantangan tersebut, Perry menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal. Fundamental ekonomi Indonesia yang solid, ditandai dengan pertumbuhan kuat dan inflasi yang terkendali, merupakan hasil dari koordinasi erat antarotoritas terkait.

"Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyelaraskan narasi ekonomi Indonesia di panggung internasional, sekaligus menyerap perspektif geopolitik terkini sebagai masukan kebijakan," katanya.

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat komunikasi kebijakan dengan investor global. Dengan menjaga persepsi pasar dan konsistensi bauran kebijakan yang responsif, Indonesia optimistis mampu menghadapi berbagai guncangan ekonomi dunia demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.

Load More