- Konflik geopolitik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam hingga mencapai USD 110 per barel.
- Ketergantungan impor energi yang tinggi terhadap jalur Selat Hormuz mengancam ketahanan dan pasokan energi nasional Indonesia.
- Pemerintah menanggung beban subsidi energi yang meningkat signifikan hingga Rp10,3 triliun per kenaikan harga minyak dunia.
Suara.com - Ancaman krisis energi yang dihadapi Indonesia saat ini semakin nyata dan sebagian besar dipicu oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali nasional. Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah telah menciptakan efek domino yang menekan sistem energi nasional secara signifikan.
Kondisi ini memaksa pemerintah dan perusahaan pelat merah di sektor energi untuk memperkuat barisan guna menjaga stabilitas pasokan serta harga di tingkat domestik.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, memberikan peringatan serius mengenai situasi ini. Konflik di Timur Tengah, meskipun dilaporkan mulai mereda, telah meninggalkan jejak kenaikan harga minyak dunia yang sangat tajam.
Saat ini, harga minyak mentah telah menyentuh angka sekitar USD 110 per barel, yang berarti terjadi lonjakan sekitar 60 persen jika dibandingkan dengan posisi pada awal tahun.
“Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap ketahanan energi kita tidak sepenuhnya berasal dari dalam negeri, melainkan dipengaruhi kuat oleh faktor global yang sulit dikendalikan, seperti konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok,” kata Kholid saat berbicara dalam Forum Diskusi “Menjaga Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Harga Minyak Global” yang diadakan Energy & Mining Editor Society (E2S) di Jakarta belum lama ini.
Ketergantungan Indonesia terhadap jalur logistik internasional juga menjadi titik lemah yang krusial. Gangguan yang terjadi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur tersebut merupakan urat nadi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Indonesia sangat bergantung pada jalur ini, di mana hampir sepertiga impor LPG dan sekitar seperlima impor minyak mentah nasional harus melewati kawasan yang rawan konflik tersebut.
Pemerintah kini tengah mengupayakan langkah mitigasi dengan mendorong diversifikasi negara asal impor energi. Strategi ini dilakukan dengan memperluas jangkauan pasokan dari negara-negara yang berada di luar zona konflik Timur Tengah.
Upaya ini dianggap vital untuk meminimalisir risiko terhentinya distribusi energi nasional akibat ketegangan politik internasional yang tidak menentu.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Membara: Sinyal Bahaya buat BBM Nasional?
“Tentunya kita mendorong payung hukum untuk itu, supaya ketika Pertamina membeli minyak mentah dari Australia misalnya, itu tidak menjadi masalah di kemudian hari,” ujarnya.
Melihat kondisi di dalam negeri, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang cukup berat terkait produksi dan konsumsi.
Berdasarkan data tahun 2025, produksi minyak nasional tercatat berada di angka 220,9 juta barel.
Namun, angka produksi tersebut belum mencukupi kebutuhan nasional sehingga pemerintah harus melakukan impor sebanyak 117,8 juta barel.
Kondisi lebih mengkhawatirkan terlihat pada sektor gas, di mana ketergantungan terhadap impor LPG mencapai angka yang sangat tinggi, yakni 7,47 juta ton.
Gejolak harga minyak dunia ini secara langsung membebani postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Muhammad Kholid Syeirazi memaparkan hitungan matematis terkait dampak kenaikan harga tersebut terhadap keuangan negara.
Tag
Berita Terkait
-
Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Membara: Sinyal Bahaya buat BBM Nasional?
-
Sinyal Dialog AS - Iran Redam Lonjakan Harga Minyak Dunia
-
Siapa Yang Tanggung Tekor SPBU Swasta?
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Minyak Dunia Kembali ke Levei USD 100 Barel, Gimana Harga BBM?
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Dapat Kejutan Ultah di DPR, Titiek Soeharto Senyum-senyum Ditanya Ucapan 'Spesial' dari Prabowo
-
PSI Usul Cara Lain Tambah PAD Jakarta, Tak Perlu Jual Nama Halte ke Parpol
-
Perkuat Otot Militer, RI-AS Resmi Bentuk MDCP: Fokus Teknologi Bawah Laut
-
Iran Desak PBB Beri Sanksi Ganti Rugi Materiil dari Bahrain Hingga Yordania
-
Profil Pete Hegseth: Menteri Perang AS yang 'Membenci' Islam, Punya Tato Kafir
-
Sambil Menangis, Aboe Bakar PKS Minta Maaf ke Ulama dan Warga Madura Terkait Isu Narkoba
-
3 Jejak Kotor Pete Hegseth Si Dewa Perang yang Doyan Mabuk dan Terjerat Skandal Seks
-
Apa Saja Efek Blokade Selat Hormuz oleh AS? Ini 5 Konsekuensinya
-
Kapal Perang AS USS George HW Bush Bermanuver Jauh ke Afrika Demi Hindari Selat Hormuz
-
Menhaj Irfan Buka-bukaan Soal War Tiket Haji: Saya yang Tanggung Jawab