Lifestyle / Food & Travel
Kamis, 16 April 2026 | 12:47 WIB
Ilustrasi pentol ceker. (dok. Pentol Ceker Begal)
Baca 10 detik
  • Pentol Ceker Begal mempertahankan eksistensi bisnis kuliner melalui inovasi rasa dan kolaborasi strategis dengan berbagai merek lokal lainnya.
  • Tekstur kenyal serta fleksibilitas bumbu menjadikan jajanan pentol dan ceker tetap diminati masyarakat di tengah gempuran tren modern.
  • Kolaborasi lintas pelaku usaha menciptakan varian menu unik yang memperluas jangkauan pasar pentol serta ceker di Indonesia.

Suara.com - Di tengah gempuran tren kuliner modern dan makanan viral, eksistensi pentol dan ceker tetap kokoh di hati masyarakat. Jajanan kaki lima yang identik dengan rasa gurih dan tekstur kenyal ini terbukti mampu bertahan, bahkan terus naik kelas melalui berbagai inovasi dan strategi unik dari para pelakunya.

Salah satu pemain besar di industri ini, Pentol Ceker Begal, membuktikan bahwa kunci bertahan di bisnis kuliner bukan hanya soal rasa yang konsisten, tetapi juga keberanian untuk keluar dari cangkang melalui kolaborasi dengan berbagai brand lokal lainnya.

Alasan Pentol Selalu Disukai

Ada alasan psikologis dan teknis mengapa masyarakat sulit berpaling dari pentol dan ceker. Pertama adalah tekstur. Perpaduan daging dan tepung yang pas menciptakan sensasi kenyal (chewy) yang memuaskan saat dikunyah. Kedua, fleksibilitas rasa. Pentol sangat mudah dipadukan dengan berbagai bumbu, mulai dari saus kacang klasik, sambal korek pedas, hingga bumbu kekinian lainnya.

Hendra Rizky, pemilik Pentol Ceker Begal, melihat fenomena ini sebagai peluang untuk terus bereksperimen. Menurutnya, kuliner lokal punya daya magis tersendiri jika dipadukan dengan karakter brand lain yang berbeda.

"Masing-masing punya keunikan dan audiens sendiri. Saat pentol yang sederhana bertemu dengan inovasi dari brand lain, di situlah muncul varian menu baru yang relevan dengan lidah konsumen saat ini," ujar Hendra.

Ceker: Sang Primadona Pendamping

Tak lengkap rasanya bicara pentol tanpa menyebut ceker. Ceker ayam yang dimasak hingga empuk dengan bumbu meresap memberikan sensasi  tersendiri. Di era digital, visual ceker yang dibalut bumbu merah membara seringkali menjadi magnet bagi para pecinta makanan pedas.

Melalui strategi kolaborasi dan cross-marketing, pentol dan ceker kini tidak lagi hanya ditemui di pinggir jalan, tetapi mulai merambah pusat-pusat keramaian dan acara komunitas. Strategi ini memungkinkan para pecinta kuliner untuk mendapatkan pengalaman rasa yang baru tanpa harus menghilangkan ciri khas jajanan aslinya.

Baca Juga: Tak Terduga, Lia Ladysta Jualan Seblak Ceker di Jakarta Fair 2025

Di tengah ketatnya persaingan, keberanian untuk menciptakan menu hasil kerja sama antar pelaku usaha lokal menjadi pembeda yang signifikan. Produk hasil kolaborasi cenderung memiliki daya tarik lebih karena menawarkan sesuatu yang berbeda dan terbatas (limited edition).

"Kami melihat ini bukan hanya soal satu produk, tapi bagaimana ke depan kuliner lokal seperti pentol bisa terus berkembang dan bersaing secara kolektif," pungkas Hendra.

Dengan terus berinovasi dan saling mendukung antar pelaku UMKM, jajanan tradisional seperti pentol dan ceker diprediksi akan tetap menjadi penguasa pasar street food Indonesia dalam waktu yang lama.

Load More