Suara.com - Ekosistem pesisir menghadapi ancaman serius akibat polusi mikroplastik yang kian meluas dan tak kasat mata. Dampaknya tidak hanya menyerang spesies besar, tetapi juga organisme kecil yang justru menjadi penopang utama keseimbangan lingkungan.
Salah satu organisme tersebut adalah cacing bambu (Macroclymenella stewartensis). Meski jarang disadari, aktivitasnya meninggalkan jejak berupa gundukan kecil di permukaan lumpur saat air surut. Spesies ini hidup di sedimen berpasir di kawasan teluk dan muara yang terlindungi, khususnya di Selandia Baru.
Peran Tersembunyi di Balik Dasar Laut
Di balik ukurannya yang kecil, cacing bambu memegang peran krusial melalui proses yang dikenal sebagai bioturbasi. Secara sederhana, bioturbasi adalah aktivitas menggali dan mengaduk sedimen dasar laut.
Proses ini memungkinkan air kaya oksigen masuk ke lapisan sedimen yang lebih dalam, sehingga menjaga kualitas lingkungan bagi berbagai organisme laut.
Selain itu, cacing bambu juga berperan dalam siklus nutrisi. Dengan mengonsumsi bahan organik, mereka membantu mengatur kandungan karbon dan nitrogen di dalam sedimen maupun perairan sekitarnya.
Limbah yang dihasilkan dalam bentuk gundukan kecil justru menjadi sumber nutrisi bagi mikroorganisme dan bagian penting dari jaring makanan pesisir.
Mikroplastik Mengganggu Aktivitas Bioturbasi
Namun, peran vital ini kini terancam oleh mikroplastik. Dikutip dari Phys.org, mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter,telah tersebar luas di seluruh lautan, dari wilayah tropis hingga Antartika. Jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 170 triliun partikel.
Baca Juga: Prabowo: 70 Kebutuhan Energi Asia Timur Lewat Laut Indonesia
Penelitian terbaru dari University of Auckland’s Leigh Marine Laboratory menunjukkan bahwa paparan mikroplastik membuat cacing bambu menjadi kurang aktif.
Meski penyebab pastinya masih diteliti, terdapat beberapa kemungkinan, seperti tertelannya partikel plastik, paparan bahan kimia dari sedimen yang terkontaminasi, hingga berkurangnya sumber makanan akibat terganggunya pertumbuhan alga.
Dampak Berantai bagi Ekosistem Pesisir
Penurunan aktivitas ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir. Ketika proses bioturbasi melemah, distribusi nutrisi menjadi tidak optimal. Akibatnya, dapat terjadi penumpukan nutrisi yang memicu ledakan alga, penurunan kadar oksigen dalam air, hingga terganggunya kemampuan sedimen dalam menyimpan karbon.
Dalam kondisi tertentu, gangguan ini bahkan berisiko melepaskan gas rumah kaca seperti metana dan dinitrogen oksida. Dampak lanjutan juga menjalar ke rantai makanan, mengingat cacing bambu menjadi sumber pakan bagi hewan lain seperti burung laut dan pari.
Hingga kini, belum ada batasan pasti terkait tingkat aman mikroplastik di lingkungan laut. Para ahli menilai, tanpa langkah pengelolaan yang serius, akumulasi mikroplastik akan terus meningkat dan memperburuk kondisi ekosistem.
Upaya sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membersihkan sampah di pesisir, serta beralih ke bahan berbasis serat alami dapat menjadi langkah awal. Sebab, menjaga laut bukan hanya tentang melindungi yang terlihat, tetapi juga yang bekerja diam-diam di bawah permukaan.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Menteri PPPA dan Selvi Ananda Kompak Tekankan Peran Keluarga dalam Mendidik Anak
-
Bupati Kuansing Diduga 'Rampok' Hak Petani untuk Disetorkan ke Menhut Raja juli
-
Dibutuhkan 90 Perawat, Apoteker untuk Fasilitas Kesehatan BLUD di Riau
-
"Bisa Aja Lo!" Kelakar Prabowo soal MBG 'Mas Bahlil Ganteng'
-
Gerai Minuman Teh Menjamur di Pinggir Jalan, Bagaimana Prospek Bisnisnya?
-
Siswi Indonesia Raih Beasiswa Jadi Delegasi Simulasi Sidang PBB Internasional
-
Bupati Serang Dukung Pembatasan Media Digital Usia Bawah 16 Tahun
-
Cak Imin Merasa 'Terancam' Bahlil: Gawat Ini Banyak Penggemarnya
-
Kepuasan Publik ke Dedi Mulyadi Tembus 95,4 Persen, Meski Program Unggulan Belum Populer
-
Beli Sunscreen Kahf Online Original Hanya di Blibli