Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 17 April 2026 | 12:30 WIB
Ilustrasi tempat sampah di sekolah (Freepik)

Dengan memisahkan sampah organik, sisa sampah lainnya menjadi lebih mudah dikelola dan berpotensi untuk didaur ulang, selama tidak tercampur kembali.

Dia menegaskan bahwa selama plastik dan sampah-sampah lain yang sebenarnya bisa diolah bercampur dengan sampak organik, maka sampah yang bisa diolah tadi akan degradasi dan tidak bisa dijual.

Sampah plastik jika bersih tanpa ada campuran, bentuknya bisa kembali seperti plastik baru ketika didaur ulang. Namun, ketika ia sudah masuk ke tanah dan bercampur dengan tumpukan sampah makanan, warnanya pun berubah dan keruh.

Perubahan Dimulai dari Bangku Sekolah

Dokumentasi membuat eco-enzyme di SDN Batu Ampar 12 Pagi (Instagram/@riverrangerjakarta)

Hingga saat ini, tiga sekolah yang dibimbing oleh River Ranger Jakarta terus membuktikan aksi mereka melalui perubahan keberlanjutan.

“Jadi awalnya kita datang, terus habis itu mereka bikin zero waste kantin dan sampai sekarang kantinnya berubah. Jadi jualannya nggak pakai plastik lagi. Mereka jual makanan yang di tampah, kemudian anak-anak datang membawa tempat makan dan tempat minumnya sendiri,” ujar Nana senang.

Perubahan kecil sering kali tidak begitu terlihat dan terasa lama. Namun, dampaknya perlahan-lahan akan lebih terasa nyata bagi bumi dan lingkungan yang menyelimutinya.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More