News / Nasional
Kamis, 16 April 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi perbatasan laut dan hutan mangrove sebagao ekosistem blue carbon. (Freepik/freepik)

Suara.com - Krisis iklim selama ini sering dipahami sebatas persoalan kerusakan hutan di daratan. Padahal, potensi besar untuk menekan laju pemanasan global justru tersembunyi di wilayah pesisir.

Ekosistem seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut mampu menyerap serta menyimpan karbon dalam jumlah besar, yang dikenal sebagai blue carbon, sebagaimana dilaporkan oleh World Resources Institute (14/4/2026).

Di Indonesia, potensi ini bukan sekadar wacana ilmiah, melainkan aset strategis yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, mengabaikan blue carbon sama saja dengan melewatkan peluang besar dalam menekan emisi.

Lantas, seberapa efektif ekosistem blue carbon dalam mengurangi emisi?

Menguji efektivitas ekosistem blue carbon?

Dilansir dari Environesia(14/4/2026), ekosistem blue carbon mampu menyerap karbon jauh lebih efisien dibandingkan hutan tropis. Fokus mitigasi iklim yang sebelumnya bergantung pada reforestasi kini mulai bergeser ke perlindungan wilayah pesisir. 

Efektivitas ini dipengaruhi oleh kemampuan vegetasi pesisir yang tumbuh cepat dan menyerap Co2 dalam jumlah yang besar. Bahkan, ekosistem blue carbon dapat  menyimpan hingga lima kali lebih banyak karbon dan menyerapnya tiga kali lebih cepat dibandingkan hutan tropis. 

Menurut The Blue Carbon Initiative (15/4/2026), berbeda dengan hutan daratan yang menyimpan karbon di batang dan daun, tanaman ekosistem pesisir menyimpannya di dalam tanah atau sedimen. Kondisi minim oksigen di bawah air membuat karbon terkunci lebih lama dan tidak mudah terlepas kembali ke atmosfer.

 Meski hanya mencakup kurang dari 0,5 persen area laut global, ekosistem ini menyumbang lebih dari 50 persen penyimpanan karbon di sedimen laut. Hal ini menjadikannya solusi yang sangat efisien dalam mitigasi perubahan iklim. 

Baca Juga: Ancam Kesehatan dan Lingkungan: DKI Gelar Operasi Basmi Ikan Sapu-sapu Jumat Lusa

Indonesia Sebagai Pemegang 17 persen Cadangan Blue Carbon Global 

Indonesia bukan sekadar partisipan, melainkan pemain inti dalam isu krisis iklim. Dengan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, potensi blue carbon di Indonesia memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas iklim global.

Berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi BRIN menunjukkan total cadangan blue carbon di Indonesia diestimasi mencapai 3,4 gigaton atau setara dengan 17 persen dari total cadangan blue carbon dunia. 

Potensi ini didukung oleh luas mangrove sekitar 3.36 juta hektar setara dengan 20 persen ekosistem mangrove dunia dan padang lamun seluas 293.464 hektar.

Ekosistem ini menjadi instrumen penting dalam upaya mencapai target Net Zero Emission 2036. Oleh karena itu, perlindungan dan pengelolaan ekosistem blue carbon perlu menjadi prioritas agar terhindar dari krisis iklim. 

Load More