Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 25 April 2026 | 09:23 WIB
Ilustrasi belanja [Unsplash/Bangun Stock Production]
Baca 10 detik
  • Data Blibli menunjukkan konsumen Ramadan 2026 meningkatkan belanja barang gaya hidup, olahraga, serta elektronik selain kebutuhan pokok.
  • Konsumen berusia 25 hingga 44 tahun menjadi penggerak utama transaksi melalui pola belanja rasional dan selektif terhadap nilai produk.
  • Aktivitas belanja masyarakat tetap kuat pasca-Lebaran 2026 karena pengaruh promosi digital serta fokus pada barang bernilai jangka panjang.

Suara.com - Jika Ramadan selama ini identik dengan lonjakan belanja kebutuhan pokok dan fesyen, anomali terlihat pada tahun 2026 ini. Data terbaru dari Blibli menunjukkan bahwa selain kebutuhan esensial, konsumen juga memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan upgrade gaya hidup.

Jika dibandingkan dengan rata-rata transaksi harian satu bulan sebelum Ramadan, kategori groceries seperti sirup dan snack memang masih mendominasi dengan lonjakan hampir empat kali lipat. Fesyen Muslim juga tetap kuat dengan kenaikan hampir tiga kali lipat.

Namun yang menarik, pertumbuhan signifikan juga terjadi pada kategori non-esensial. Peralatan olahraga seperti tenis dan padel mencatat lonjakan tertinggi, meningkat lebih dari lima kali lipat. Sementara itu, produk elektronik rumah tangga—mulai dari TV LED, mesin cuci, microwave, hingga kulkas—tumbuh hampir dua kali lipat. Produk perawatan diri pun menunjukkan tren serupa.

Head of Campaign Blibli, Indra Perdana, melihat fenomena ini sebagai perubahan cara pandang konsumen terhadap belanja Ramadan.

“Yang kami lihat bukan hanya peningkatan transaksi, tetapi juga adanya pergeseran motivasi belanja. Konsumen tidak lagi hanya fokus pada kebutuhan Ramadan, tetapi juga mulai memanfaatkan momentum ini untuk melakukan upgrade dalam gaya hidup mereka,” ujarnya.

Konsumen Makin Rasional, Tapi Tetap Belanja

Menariknya, pergeseran ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Meski inflasi relatif terkendali dan kepercayaan konsumen tetap optimistis, daya beli masih menghadapi tekanan. Hal ini membuat masyarakat semakin selektif dalam menentukan prioritas belanja.

Laporan Jakpat “Consumer Commerce Outlook 2026” menggambarkan perubahan ini lewat munculnya karakter rational shopper. Konsumen kini lebih aktif membandingkan harga, mencari nilai terbaik, dan memilih kanal belanja secara lebih cermat.

Dalam konteks tersebut, peningkatan belanja di kategori seperti olahraga dan elektronik menunjukkan bahwa konsumen mulai mengalokasikan pengeluaran untuk produk dengan manfaat jangka panjang, bukan sekadar konsumsi sesaat.

Baca Juga: Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Dari sisi demografi, kelompok usia 25–44 tahun menjadi motor utama transaksi selama Ramadan 2026. Komposisinya relatif seimbang, dengan 54 persen pria dan 46 persen perempuan. Sementara metode pembayaran masih didominasi oleh virtual account, disusul kartu kredit dan dompet digital.

Tren Belanja Berlanjut Setelah Lebaran

Menariknya, aktivitas belanja tidak langsung mereda setelah Idulfitri. Blibli mencatat, konsumen tetap aktif bertransaksi pasca-Lebaran, baik untuk memanfaatkan promo lanjutan maupun menyelesaikan rencana pembelian yang sempat tertunda.

Temuan ini sejalan dengan laporan Mandiri Institute yang mencatat bahwa konsumsi masyarakat tetap kuat sepanjang Ramadan hingga Lebaran 2026, bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut kelompok menengah sebagai pendorong utama akselerasi ini. Selain itu, momentum promosi digital seperti periode double date (3.3) juga ikut membentuk pola belanja baru, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada momen Lebaran.

“Pasca-Lebaran masih menjadi periode yang aktif. Konsumen tetap berbelanja, tapi dengan pilihan yang lebih selektif dan fokus pada apa yang benar-benar mereka butuhkan,” tutup Indra.

Load More