Suara.com - Sore itu, saya memilih cara berbeda untuk menghabiskan akhir pekan di Jakarta. Bukan berburu kafe atau menatap layar ponsel, melainkan kembali ke pengalaman yang lama terasa jauh: bermain permainan tradisional.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, langkah saya menuju Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK). Kawasan ini tetap ramai oleh suara kendaraan dan aktivitas warga. Namun di satu sudut lapangan, suasananya terasa kontras.
Sekelompok anak muda berkumpul, berdiri melingkar, tertawa, dan saling berinteraksi tanpa distraksi gawai. Tidak ada layar yang menyala, hanya permainan sederhana yang dulu akrab di masa kecil.
Pemandangan ini terasa berbeda di tengah ritme kota yang serba cepat dan digital. Saat banyak orang menghabiskan waktu luang dengan media sosial, mereka justru menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai jarang ditemui.
Saya berhenti sejenak mengamati. Permainan itu bukan hal baru, tetapi kini terasa asing, seolah menjadi bagian dari masa lalu, bukan lagi keseharian. Namun di ruang itu, jarak tersebut seperti hilang. Tawa terdengar spontan, interaksi berlangsung tanpa perantara, dan suasananya terasa lebih cair.
Mereka adalah bagian dari Komunitas Bermain, inisiatif yang berupaya menghidupkan kembali permainan tradisional di tengah dominasi budaya digital. Melalui kegiatan rutin di ruang terbuka, komunitas ini mengajak anak muda kembali merasakan pengalaman bermain secara langsung.
Sebelum permainan dimulai, ada ritual sederhana: absen dan perkenalan. Saya datang bersama dua teman, tetapi suasana yang hangat membuat batas antarorang cepat mencair. Tidak ada kesan eksklusif; pendatang baru langsung disambut sebagai bagian dari kelompok. Setelah itu, dilakukan pemanasan singkat sebagai pembuka sebelum permainan dimulai.
Berawal dari Lompat Karet di Sudut GBK
Di sela waktu menunggu, saya berbincang dengan Daffa Iqbal, Co-Founder Komunitas Bermain. Ia menceritakan, komunitas ini lahir dari hal sederhana: kerinduan terhadap permainan masa kecil.
Menurut Iqbal, ide awal datang dari salah satu founder, Kiko, yang ingin bernostalgia dengan lompat karet. Aktivitas itu awalnya dilakukan spontan di Gate A GBK, tanpa rencana membentuk komunitas.
Baca Juga: Duel 'El Clasico' Indonesia Kembali ke Senayan: PSSI Restui Laga Persija vs Persib di GBK
Namun, respons publik di luar dugaan. Banyak orang yang melintas berhenti, menonton, lalu ikut bergabung. “Tanpa sengaja orang-orang ikut gitu untuk coba. Sampai akhirnya yang ikut itu semakin lama semakin banyak,” kenang Iqbal.
Fenomena ini terjadi berulang. Orang-orang yang awalnya tidak saling mengenal tiba-tiba menyapa dan bertanya, “Eh, boleh ikut?” Ajakan terbuka pun menjadi ciri khas. “Ayo, ikut aja,” ujar Iqbal menirukan.
Dari interaksi spontan tersebut, jumlah peserta terus bertambah. Aktivitas ini kemudian menyebar di media sosial seperti TikTok, Twitter, dan Instagram, memicu nostalgia kolektif banyak orang terhadap permainan tradisional.
Melihat respons tersebut, para inisiator memutuskan membentuk komunitas secara resmi. Nama awal sempat merujuk pada permainan karet, namun kemudian diubah menjadi Komunitas Bermain agar lebih inklusif dan tidak terbatas pada satu jenis permainan.
“Orang itu gak semuanya bisa main karet dan kadang tuh orang tuh bosen main karet doang,” jelas Iqbal.
Kini, permainan yang dilakukan pun beragam, mulai dari gobak sodor hingga ular naga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Ramalan Zodiak Kamis 25 Juni 2026: Cancer, Virgo, dan Capricorn Beruntung Besar Hari Ini!
-
Pompa Air Otomatis yang Bagus Merek Apa? Ini 4 Rekomendasi Terlaris dan Hemat Listrik
-
Lipstik Wardah Apakah Tahan Lama? Ini 4 Pilihan dengan Klaim Awet hingga 20 Jam
-
4 Urutan Skincare Wardah saat Kulit Purging agar Cepat Pulih, Lengkap dengan Harga dan Review
-
Bisa Lewat HP, Ini Cara Cek Penerima Bansos BPNT Juni 2026
-
Zodiak yang Beruntung Mulai 25 Juni: Keuangan Taurus hingga Capricorn Mulai Membaik
-
3 Rekomendasi Genset 500 Watt yang Bisa Dipakai di Rumah, Solusi saat Pemadaman Listrik
-
Lebih dari Sekadar Pertandingan: Ketika Euforia Sepak Bola Menjadi Gaya Hidup Generasi Urban
-
5 Face Wash Anti-Aging untuk Kurangi Kerutan Usia 40 Tahun agar Wajah Tampak Muda
-
Ciri-Ciri Sunscreen Kedaluwarsa, Ini Risikonya kalau Tetap Dipakai