Lifestyle / Male
Selasa, 12 Mei 2026 | 12:20 WIB
Nadiem Makarim [ANTARA FOTO/Wahyu Putro]
Baca 10 detik
  • Nadiem Makarim menderita penyakit fistula perianal yang memicu pendarahan serius.
  • Penyakit ini merupakan saluran abnormal yang menimbulkan nyeri hebat serta pembengkakan.
  • Nadiem sempat menjalani perawatan intensif pada Desember 2025 yang mengakibatkan penundaan jadwal persidangan.

Suara.com - Kondisi kesehatan Nadiem Makarim turut menjadi sorotan saat di persidangan. Pasalnya, ia sempat datang dalam kondisi selang infus terpasang. Pertanyaan Nadiem Makarim sakit apa pun turut memicu rasa penasaran publik.

Usut punya usut, Nadiem Makarim ternyata menderita fistula perianal.

Apa itu Fistula Perianal?

Fistula perianal, juga dikenal sebagai fistula ani, adalah kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya saluran abnormal yang menghubungkan bagian dalam anus (rektum atau kanal anal) dengan kulit di sekitar anus (perianal).

Saluran ini biasanya terbentuk akibat infeksi atau abses yang tidak sembuh sempurna, sehingga menciptakan “terowongan” yang memungkinkan cairan, nanah, atau bahkan darah keluar dari dalam tubuh ke permukaan kulit.

Penyakit ini termasuk dalam kategori gangguan proktologi dan cukup umum dialami, meskipun sering kali membuat penderitanya merasa malu dan tidak nyaman.

Penyebab utama fistula perianal adalah infeksi pada kelenjar anal yang tersumbat. Ketika kelenjar ini terinfeksi bakteri, terbentuklah abses (kumpulan nanah).

Jika abses tidak ditangani dengan baik, nanah akan mencari jalan keluar dan membentuk saluran fistula.

Faktor risiko lainnya meliputi penyakit radang usus seperti Crohn’s disease, tuberkulosis, trauma pada area anus, operasi sebelumnya, atau kondisi yang melemahkan sistem imun.

Baca Juga: Resmi! Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah

Pada sebagian besar kasus, fistula ini bersifat kriptoglandular, artinya berasal dari infeksi kelenjar di anus.

Gejala dan Pengobatan Fistula Perianal

Gejala fistula perianal yang paling sering muncul adalah nyeri hebat di sekitar anus, terutama saat duduk, berjalan, batuk, atau buang air besar.

Penderita juga sering mengalami pembengkakan, kemerahan, keluarnya cairan bernanah atau berbau busuk dari lubang kecil di kulit dekat anus, serta pendarahan.

Gejala ini bisa kambuh-kambuhan dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan jika tidak ditangani. Dalam kasus komplikasi, infeksi dapat menyebar dan menyebabkan abses berulang atau bahkan sepsis jika dibiarkan.

Diagnosis fistula perianal biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis bedah digestif atau proktologi. Dokter mungkin melakukan pemeriksaan dengan probe, endoskopi (anoskopi), atau pencitraan seperti MRI, ultrasound endoanal, atau fistulografi untuk menentukan jalur fistula dan tingkat kompleksitasnya.

Load More