- Konsep 10-minute city living menawarkan akses fasilitas harian yang dapat dijangkau dalam waktu sepuluh menit dari rumah.
- Pengembangan kawasan terintegrasi ini meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta menarik investasi ekonomi melalui pusat aktivitas yang dinamis.
Suara.com - Menghabiskan waktu berjam-jam di kemacetan hanya untuk mencapai kantor atau sekadar mencari kopi favorit kini mulai ditinggalkan oleh masyarakat urban.
Saat ini, muncul sebuah filosofi baru yang mengubah cara kita memandang tempat tinggal: 10-minute city living. Konsep ini menawarkan kebebasan di mana sekolah, pusat kesehatan, perkantoran, hingga kafe favorit dapat dijangkau hanya dalam waktu sepuluh menit dari pintu rumah.
Bagi masyarakat urban, waktu kini menjadi mata uang yang lebih berharga daripada sekadar fasilitas mewah. Konsep kota mandiri yang ideal kini dituntut untuk mampu menghadirkan kemudahan akses terhadap berbagai kebutuhan sehari-hari dalam satu lingkungan yang terintegrasi. Dengan meminimalisir waktu perjalanan, kualitas hidup pun meningkat karena seseorang memiliki lebih banyak ruang untuk keluarga, hobi, dan istirahat.
Ekosistem yang Menghubungkan Segalanya
Mewujudkan gaya hidup "serba sepuluh menit" memerlukan perencanaan infrastruktur yang matang. Di Indonesia, salah satu kawasan yang secara konsisten merealisasikan kampanye Everything is Here adalah Paramount Gading Serpong yang telah dikembangkan sejak 2006. Kawasan ini terus bertransformasi menjadi kota mandiri dengan ekosistem yang memungkinkan penghuninya beraktivitas tanpa harus berpindah jauh.
Kekuatan utama dari model hunian ini terletak pada konektivitasnya. Selain keterhubungan eksternal menuju Jakarta Barat, BSD, dan Alam Sutera melalui akses tol, keterhubungan antar-area di dalam kawasan juga dirancang agar mobilitas berlangsung efisien melalui jalan utama dan boulevard.
Direktur Paramount Land, Chrissandy Dave, menjelaskan bahwa integrasi ini menjadi kunci utama bagi kenyamanan penghuni. "Setiap pengembangan kawasan dirancang terintegrasi agar aktivitas penghuni dan pelaku usaha dapat berjalan lebih efisien dalam satu lingkungan yang saling terhubung," ujarnya. Hal ini menciptakan sebuah lingkungan di mana aktivitas tinggal, bekerja, hingga rekreasi dapat dilakukan secara praktis dalam satu kawasan.
Magnet Baru bagi Investasi dan Gaya Hidup
Seiring dengan meningkatnya populasi dan mobilitas, kawasan ini juga menjadi magnet bagi para pelaku usaha. Area komersial di sisi selatan, seperti Manhattan District hingga Pasadena Central District, kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi yang dinamis. Perkembangan ini tidak lepas dari komunitas yang sudah terbentuk dan tingkat kunjungan yang stabil, yang menurut analisis pasar menjadi pertimbangan utama para penyewa ritel untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Baca Juga: Suka Perfect Crown? Ini 5 Drama Tema Kerajaan Modern yang Tak Kalah Seru
Dukungan para pengamat industri pun semakin memperkuat profil kawasan terintegrasi ini. Pengamat properti menilai bahwa kekuatan sebuah kota mandiri terletak pada kelengkapan fasilitas serta integrasi antar-pengembangan yang terus bertumbuh. Selain itu, kawasan penyangga Jakarta seperti Serpong tetap menjadi destinasi utama properti karena pertumbuhan fasilitas pendidikan dan kesehatannya yang pesat menciptakan efek berantai bagi ekonomi kawasan secara keseluruhan.
Pada akhirnya, hidup di kota mandiri yang mengadopsi prinsip city connected to everything bukan sekadar tentang kemudahan akses, melainkan tentang mendapatkan kembali kendali atas waktu kita sendiri. Di bawah naungan infrastruktur yang efisien, gaya hidup 10 menit bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas harian yang mendefinisikan kenyamanan modern.
Berita Terkait
-
Menakar Filosofi Ki Hajar Dewantara di Era Kecerdasan Buatan, Masihkah Relevan?
-
Berdamai dengan Hidup Pas-Pasan: Kritik Tajam atas Kapitalisme Modern
-
Ngeri! Macet Jabodetabek Rugikan RI Rp 100 T, BUMN Ini Punya Solusinya
-
Sidang Kredit Macet Bongkar Dugaan Pengelolaan Ilegal Aset Sitaan Rp40 Miliar
-
Bantah Sengaja Lawan Arus, Kadispenad Sebut Mobil Dinas TNI Berpelat 1-45 Terjebak Macet
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
91% Orang Indonesia Anggap Kesehatan Holistik Penting, Ternyata Bukan Sekadar Bebas Penyakit
-
Produksi Melimpah Harga Jatuh, Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Nasib Petani Garam
-
BTN dan PPATK Renovasi 20 RTLH, Bantu Wujudkan Hunian Layak bagi Keluarga Prasejahtera
-
Cerdas! Begini Langkah Kang Edai Mengubah Desa Kemiren Jadi Naik Kelas
-
Arti Penting Berlian bagi Anggun C Sasmi: Bukan Sekadar Aksesori, tapi Self-Reward
-
5 Rekomendasi Sunscreen Ectoin untuk Memperbaiki Skin Barrier dan Anti Polusi
-
Sengketa 6,1 Hektare Kencana Bogor Memanas, AJB Dipersoalkan hingga Dugaan Rekayasa Hukum
-
5 Penyebab Bedak Cakey dan Crack di Garis Senyum, Ini Cara Mengakalinya
-
Bukan Asal Murah, Ini 5 Kriteria Tasya Kamila Saat Memilih Perabotan Rumah Tangga
-
HP 64 GB Mulai Lemot? Coba 6 Trik Sederhana Ini sebelum Ganti Ponsel