Lifestyle / Food & Travel
Jum'at, 15 Mei 2026 | 21:35 WIB
Ilustrasi Solo Travelling dengan bantuan AI. (Pexels.com/BazilElias)
Baca 10 detik
  • PATA Annual Summit 2026 di Korea Selatan membahas peran kecerdasan buatan dalam mengubah strategi pemasaran destinasi wisata global.
  • Teknologi AI menuntut pengelola destinasi untuk lebih memahami perubahan perilaku wisatawan demi menciptakan pengalaman liburan yang personal.
  • Indonesia ditantang meningkatkan kualitas layanan dan transformasi digital guna menarik wisatawan dengan pengalaman yang lebih autentik serta berkelanjutan.

Suara.com - Pernahkah Anda merasa bahwa cara kita merencanakan liburan kini sudah jauh berbeda? Jika dulu kita hanya terpaku pada brosur atau foto cantik di internet, kini teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah segalanya, mulai dari cara kita mencari inspirasi hingga melakukan pemesanan tiket dan hotel.

Insight mengenai peran krusial AI ini menjadi salah satu topik hangat dalam ajang PATA Annual Summit 2026 yang baru saja berlangsung di Korea Selatan. Berdasarkan laporan dari perusahaan teknologi pemasaran perjalanan, Sojern, strategi pemasaran destinasi wisata kini tengah mengalami pergeseran besar yang dipengaruhi oleh perkembangan AI yang semakin canggih.

AI: Mengubah Ekspektasi dan Strategi Berwisata

Perkembangan teknologi digital saat ini memaksa para pengelola destinasi wisata untuk berpikir lebih kreatif dan terukur. Wisatawan masa kini memiliki ekspektasi yang semakin terfragmentasi, dan AI hadir sebagai alat yang memandu mereka menemukan pengalaman yang benar-benar personal. Hal ini menuntut lembaga promosi atau destination marketer untuk tidak hanya sekadar memajang gambar indah, tetapi juga mampu menunjukkan dampak nyata dari strategi pemasaran digital mereka.

Ardiyansyah Djafar, delegasi PATA Indonesia Chapter yang hadir dalam forum tersebut, menekankan bahwa kemampuan membaca perubahan perilaku inilah yang akan membedakan pemenang di industri pariwisata masa depan.

“Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan,” kata Ardiyansyah. 

Indonesia di Tengah Transformasi Digital

Bagi Indonesia, tren penggunaan AI dan digitalisasi ini adalah peluang besar sekaligus tantangan untuk meningkatkan kualitas layanan. Dengan fondasi pasar yang sudah kuat—mencapai 15,39 juta kunjungan wisman pada 2025—Indonesia dituntut untuk lebih dari sekadar mengandalkan volume kunjungan.

Ardiyansyah menambahkan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat pariwisata yang lebih modern namun tetap terjaga nilai luhurnya.

Baca Juga: Kumpulan Prompt AI Edit Foto Masa Kecil vs Masa Kini, Hasil Estetik dan Emosional

“Tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi, baik bagi wisatawan asing maupun domestik,” tegasnya.

Tentang PATA Annual Summit 2026

Forum internasional PATA Annual Summit 2026 sendiri digelar pada 11–13 Mei 2026 di Kota Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan, dengan tema Navigating Towards a Resilient Future. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 550 delegasi dari 35 destinasi di kawasan Asia Pasifik serta menghadirkan lebih dari 60 pembicara ahli dari berbagai sektor, mulai dari regulator hingga perusahaan teknologi perjalanan global.

Dalam forum ini, Pacific Asia Travel Association (PATA) memproyeksikan bahwa jumlah kunjungan wisatawan internasional di kawasan ini akan mencapai 761,2 juta pada tahun 2028. Selain itu, diprediksi sebanyak 68,3 persen perjalanan inbound pada tahun 2025 akan didominasi oleh perjalanan antarnegara di dalam kawasan Asia Pasifik itu sendiri.

Menutup pernyataannya, Ardiyansyah berharap para pemangku kebijakan di Indonesia bisa terus aktif dalam forum serupa untuk menyerap data dan strategi global yang tepat.

“Momen seperti PATA Annual Summit menjadi penting tidak hanya bagi pelaku industri pariwisata, tetapi juga regulator dan pemangku kebijakan pariwisata di Indonesia. Forum ini memberikan insight, data, serta gambaran mengenai arah perubahan industri pariwisata global yang sangat relevan untuk mengambil strategi pengembangan destinasi yang tepat bagi Indonesia ke depan,” tutupnya. 

Load More