Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:40 WIB
Ilustrasi ruang terbuka hijau. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Peringatan Hari Bumi 22 April menekankan pentingnya ruang terbuka hijau sebagai kebutuhan dasar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
  • Pemerintah dan berbagai pihak mendorong partisipasi aktif masyarakat serta sektor swasta untuk terlibat langsung dalam pemulihan lingkungan berkelanjutan.
  • Hunian modern mengintegrasikan desain ruang terbuka hijau berlapis guna mengurangi polusi dan menciptakan lingkungan lebih nyaman.

Suara.com - Peringatan Hari Bumi pada 22 April lalu kembali mengangkat isu pentingnya ruang terbuka hijau (RTH) di tengah meningkatnya tekanan lingkungan perkotaan. Bukan lagi sekadar elemen pelengkap kota, keberadaan ruang hijau kini dinilai menjadi kebutuhan mendasar untuk menjaga kualitas hidup masyarakat urban.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 menegaskan bahwa RTH memiliki fungsi strategis, mulai dari menyerap polusi udara, mengendalikan suhu kawasan, hingga mendukung kesehatan masyarakat.

Isu ini semakin relevan seiring pertumbuhan kawasan perkotaan yang makin padat. Kampanye Earthday.org tahun ini pun mengusung semangat aksi kolektif dan mobilisasi komunitas, dengan pesan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dan sektor swasta.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Sekjen WALUBI, Romo Asun Gotama, saat peringatan Hari Bumi di Gunung Padang, 22 April lalu.

“Ketika manusia hidup dengan kesadaran, tidak serakah, dan penuh welas asih, maka alam pun akan terjaga. Merawat bumi adalah bagian dari laku spiritual,” ujarnya.

Sementara itu, laporan Outlook 2026 WALHI bertajuk Membayar Mahal Ambisi Pertumbuhan menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama dalam pemulihan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Di tengah dorongan tersebut, sejumlah pengembang mulai mengintegrasikan konsep ruang hijau dalam pengembangan kawasan hunian. Salah satunya dilakukan Paramount Petals Connected Living, kota mandiri besutan Paramount Land di Barat Jakarta, yang mengadopsi pendekatan berbasis lingkungan melalui perancangan kawasan hijau terintegrasi.

Henry Napitupulu, Direktur Design dan Planning Paramount Petals, mengatakan vegetasi di kawasan itu tidak hanya difungsikan sebagai elemen estetika.

“Konsep perancangan ruang terbuka hijau (RTH) dapat diwujudkan melalui desain ruang hijau berlapis, mulai dari boulevard utama yang rindang, koridor hijau di dalam kawasan, hingga taman komunal yang mudah diakses penghuni. Vegetasi tidak sekadar menjadi elemen estetika, tetapi berfungsi sebagai green buffer alami untuk menyerap polusi udara, meredam panas, dan menciptakan mikroklimat yang lebih nyaman,” jelas Henry.

Baca Juga: Bukan Cuma Tempat Tinggal, Hunian di Indonesia Kini Jadi Incaran Investasi

Selain menghadirkan area hijau, kawasan hunian modern kini juga dirancang lebih ramah pejalan kaki dengan dukungan ruang publik terbuka yang mendorong aktivitas luar ruang dan gaya hidup aktif.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan kebutuhan kota modern yang semakin menuntut keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Dan dalam praktiknya, pengelolaan kawasan atau estate management juga menjadi bagian penting agar fungsi RTH tetap optimal dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Load More