Lifestyle / Komunitas
Senin, 25 Mei 2026 | 11:02 WIB
Ilustrasi Sampah Plastik. (Dok. Greenpeace)

Mengurangi Paparan Mikroplastik

Selain persoalan sampah, penggunaan plastik sekali pakai juga berkaitan dengan risiko pencemaran mikroplastik. Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Ravika Aprilianti, mengingatkan bahwa sebagian kemasan plastik yang dianggap lebih aman pun tetap berpotensi melepaskan partikel mikroplastik.

Menurut Ravika, wadah makanan berbahan plastik tipis (thinwall) yang banyak digunakan untuk makanan siap saji tetap dapat mengalami degradasi ketika terkena panas atau benturan selama penggunaan.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mulai beralih ke wadah yang lebih tahan lama dan dapat digunakan berulang kali.

“Kalau bisa yang non-plastik, misalnya kaca atau stainless, itu juga bisa jadi solusi,” ujarnya.

Penggunaan tumbler berbahan stainless steel, membawa wadah sendiri saat membeli makanan, hingga memilih produk isi ulang menjadi beberapa langkah sederhana yang dinilai dapat mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus menekan paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Jofanny, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan skala nasional. Mengurangi satu saset dari setiap rumah tangga, menurutnya, dapat menjadi langkah awal untuk memutus rantai sampah plastik yang terus bertambah setiap hari.

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, mulai dari siklus El-Nino yang ekstrem hingga ancaman ketahanan pangan, Program GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia menyelenggarakan Festival Raksha Loka di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 22-23 Mei 2026.

Festival bertajuk “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan” ini merupakan selebrasi sekaligus ruang amplifikasi atas keberhasilan inisiatif pemulihan ekosistem berbasis komunitas yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir dalam fase Operational Phase 7 (OP7).

Baca Juga: Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?

Sejak Juli 2022, GEF SGP Indonesia bersama 86 mitra lokal telah bekerja di empat bentang alam strategis, yakni: DAS Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), Gorontalo (Wilayah Penyangga SM Nantu & Tahura BJ Habibie), serta Pulau Sabu Raijua (NTT). Upaya kolektif ini telah berhasil memulihkan ekosistem dari ancaman deforestasi, krisis air bersih, hingga degradasi pesisir.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More