- Indonesia menempati posisi tertinggi global dengan 95 persen mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan untuk mendukung proses pembelajaran sehari-hari.
- Orang tua menuntut perguruan tinggi memberikan pengawasan serta bimbingan penggunaan teknologi AI agar kemampuan analisis mahasiswa tetap terjaga.
- BINUS University mengintegrasikan ekosistem AI yang mewajibkan mahasiswa mengevaluasi informasi guna meningkatkan keterampilan kritis, kreativitas, serta daya adaptabilitas.
Suara.com - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan mahasiswa Indonesia kini menjadi bagian dari keseharian belajar.
Namun di balik tingginya adopsi teknologi tersebut, muncul pertanyaan baru dari para orang tua: apakah AI membantu mahasiswa belajar lebih baik, atau justru membuat mereka semakin bergantung pada jawaban instan?
Data Global Student Survey 2025 yang dirilis Chegg menunjukkan sebanyak 95 persen mahasiswa Indonesia telah menggunakan AI generatif dalam proses pembelajaran. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di antara 15 negara yang disurvei.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran tersendiri. Bukan soal penggunaan AI semata, melainkan bagaimana teknologi tersebut memengaruhi kemampuan berpikir kritis, analisis, dan pemecahan masalah mahasiswa dalam jangka panjang.
Kekhawatiran tersebut juga tercermin dalam sejumlah survei internasional. Survei EdChoice 2025 menemukan 65 persen orang tua menilai perguruan tinggi perlu mengajarkan penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 79 persen pada kelompok orang tua yang menyekolahkan anaknya di institusi swasta.
Sementara itu, survei Echelon Insights terhadap 1.511 orang tua menunjukkan 56 persen responden meyakini anak mereka aktif menggunakan AI. Meski demikian, mayoritas menginginkan adanya pengawasan dan batasan yang jelas agar kemampuan analitis dan problem solving mahasiswa tetap terjaga.
Perubahan ini membuat pendekatan kampus terhadap AI mulai menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih perguruan tinggi.
Orang tua tidak lagi hanya melihat fasilitas digital yang dimiliki kampus, tetapi juga bagaimana institusi pendidikan membimbing mahasiswa menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Merespons perkembangan tersebut, BINUS University menghadirkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem, sebuah pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan AI sekaligus mendorong mahasiswa memahami cara memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Mendiktisaintek Persilakan Kampus Kelola Dapur MBG, Bisa Jadi Laboratorium Praktik Mahasiswa
Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., CSCA., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan mahasiswa tidak sekadar mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami konteks, batasan, dan implikasinya.
Menurutnya, kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja di masa depan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi. Laporan Future of Jobs Report 2025 bahkan memproyeksikan 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2030, dengan kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan adaptabilitas menjadi semakin penting.
Melalui ekosistem digital yang dimilikinya, mereka membiasakan mahasiswa untuk tidak hanya menerima hasil yang diberikan AI, tetapi juga mengevaluasi, memvalidasi, dan menguji informasi yang diperoleh. Proses tersebut diterapkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari riset, brainstorming, collaborative learning, hingga penerapan AI dalam konteks industri.
"Memahami perkembangan AI saat ini, kami berkomitmen mendampingi mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan daya analitis mereka," ujar Dr. Nelly.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Didukung Bebi Romeo dan Once Mekel, Janner Clay Siahaan Rilis 6 Karya Sekaligus
-
DBL Indonesia Buka Musim Baru dengan Gebrakan Besar, 31 Kota Jadi Rumah bagi Para Pengejar Mimpi
-
Hasto Kritik TNI-Polri Ikut Awasi Pajak: Penyalahgunaan Kekuasaan
-
3 Lipstik Inez yang Halal dan Tahan Lama, Warnanya Intens dan Tak Bikin Bibir Kusam
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Spesifikasi Kapal Induk Tua Italia ITS Giuseppe Garibaldi: Dipensiunkan Sejak 1971
-
Densus 88 Tangkap Teroris di Ciamis dan Lampung, Bongkar Propaganda Medsos
-
Marko Simic Ternyata Punya Peran Besar di Balik Kedatangan 2 Pemain Asing Persija
-
Satgas Percepat Rehab-Rekon Pascabencana Sumatera, Anggaran Rp100,1 Triliun Disiapkan hingga 2028
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?