- Menteri Brian Yuliarto mengungkapkan pelaku fabrikasi riset di Denmark bukan dosen, melainkan oknum yang mengejar dana bantuan perjalanan luar negeri.
- Praktik penyalahgunaan bantuan riset tersebut berpotensi merusak reputasi kredibilitas para peneliti Indonesia yang berdedikasi tinggi di mata internasional.
- Kemdiktisaintek sedang mengkaji jalur hukum pidana untuk memberikan efek jera terhadap para pelaku manipulasi riset yang merugikan dunia akademik.
Suara.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkap dugaan motif di balik kasus fabrikasi riset internasional yang menyeret sejumlah Warga Negara Indonesia di Denmark. Menurutnya, praktik tersebut dilakukan bukan untuk memenuhi persyaratan akademik dosen, melainkan demi memperoleh bantuan dana perjalanan atau travel grant ke luar negeri.
Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Jakarta, Selasa, Brian menjelaskan para terduga pelaku bukan berasal dari kalangan dosen yang memiliki kewajiban mengumpulkan Kredit Unit Minimal (KUM).
"Jadi, kalau tadi disampaikan apakah ini motifnya karena KUM, itu tidak, karena mereka bukan dosen. Mereka tidak mengumpulkan KUM, tetapi motifnya adalah setelah beberapa hal kami dapati, mereka ingin mendapatkan travel grant," katanya.
Brian menerangkan bahwa di lingkungan akademik internasional terdapat berbagai program bantuan yang disediakan lembaga donor maupun penyelenggara konferensi untuk mendukung peneliti dan akademisi muda menghadiri forum ilmiah di berbagai negara.
Menurutnya, skema bantuan tersebut diduga dimanfaatkan secara tidak semestinya oleh oknum tertentu untuk memperoleh fasilitas perjalanan ke luar negeri.
"Jadi, memang ada beberapa lembaga yang memberikan bantuan untuk dosen-dosen muda menghadiri konferensi internasional peneliti-peneliti muda. Nah ini yang kemudian dimanfaatkan secara tidak bijak oleh oknum-oknum ini," ujarnya menambahkan.
Menteri Brian menilai tindakan tersebut bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga berpotensi merusak reputasi peneliti Indonesia di mata dunia internasional. Ia menegaskan masih banyak akademisi Indonesia yang bekerja secara profesional dan menghasilkan riset berkualitas.
"Secara etika ini kan mencoreng nama baik peneliti di Indonesia. Kami melihat juga banyak peneliti Indonesia yang sangat kredibel, yang sangat bagus, yang berdedikasi tinggi, tentu namanya menjadi tidak bagus karena hal-hal yang seperti ini," kata dia.
Namun, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi menghadapi kendala dalam penanganan kasus tersebut karena para terduga pelaku bukan merupakan tenaga pendidik yang berada di bawah kewenangan administratif kementerian.
Baca Juga: Kasus Riset Palsu di Denmark, Mendiktisaintek Temukan Dugaan Pencatutan Nama Kampus
Meski demikian, Brian memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Tim hukum Kemdiktisaintek saat ini sedang mengkaji berbagai kemungkinan agar kasus tersebut dapat diproses melalui jalur pidana dan memberikan efek jera.
"Kami sepakat bahwa ini perlu ada efek jera, dan perlu juga untuk membesarkan hati teman-teman kita peneliti yang memang serius melakukan penelitian, serius menyiapkan bahan dan pergi ke luar negeri," tutur Brian Yuliarto.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah akan berupaya menindak tegas praktik manipulasi riset yang dinilai merugikan dunia akademik dan mencoreng kredibilitas peneliti Indonesia di tingkat global.
Berita Terkait
-
Kasus Riset Palsu di Denmark, Mendiktisaintek Temukan Dugaan Pencatutan Nama Kampus
-
Mikroba Bawah Tanah Ditemukan Mampu Atasi Krisis Iklim, Bagaimana Caranya?
-
Berapa Jumlah Bulu Sayap Garuda Pancasila? Poster BRIN Viral karena Salah Hitung
-
Peneliti UGM Tak Temukan Kaitan Sistem Kelistrikan dengan Munculnya Api Misterius di Sleman
-
Dibalik Kasus Prihantini: Mengapa Standar Global Begitu Mudah Dicurangi?
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi
-
Terima Bos Blueray Divonis 2 Tahun Penjara, KPK Ogah Ajukan Banding