- Pyopp Fledge sandal lari lokal yang menawarkan sensasi unik dengan sol tipis dan keras.
- Penggunaan sandal ini melatih otot kaki, memperbaiki teknik mendarat, serta meningkatkan koneksi antara otak dengan permukaan tanah.
- Pengguna disarankan melakukan penyesuaian ukuran sandal dan beradaptasi secara bertahap untuk menghindari cedera saat memulai transisi lari.
Suara.com - Bagi sebagian besar pelari, lari menggunakan sandal mungkin terdengar ekstrem atau bahkan berisiko. Kendati begitu, penggunaan sandal barefoot kini makin populer.
Produk lokal Pyopp Fledge Jelajah Barefoot Sandal menjadi salah satu yang paling populer dan direkomendasikan.
Lantas seperti apa review penggunaan sandal tersebut untuk lari? Mari simak ulasan berikut.
Review Pyopp Fledge Jelajah Barefoot Sandal
Berbeda dengan sepatu lari modern yang mengutamakan bantalan tebal, sandal ini memangkas habis komponen upper dan menyisakan jalinan straps pengikat saja.
Sensasi berlari tanpa alas kaki yang dihadirkan oleh produk ini memberikan pengalaman baru yang menantang dalam konteks positif.
Kreator konten sekaligus pelari, A Rachman, memberikan ulasan jujur mengenai impresi pertama saat dirinya mencoba produk lokal tersebut untuk beraktivitas.
"Setelah saya cobain kayak apa ya, kayak enggak nyangka aja kita bisa lari di atas sandal gitu kan," ujarnya.
Menurutnya, sandal tersebut menawarkan ground feel yang sangat tinggi karena solnya yang tipis dan keras.
Baca Juga: 5 Sepatu Nike Original Termurah di Bawah Rp1 Juta, Buat Lari hingga Futsal
A Rachman menggambarkan sensasinya dengan sangat lugas: "Gak ada feel empuk-empuknya itu sama sekali, jangan kalian berharap seperti itu... Jadi benar-benar ya nyaris kayak berdiri di atas triplek aja mungkin ya."
Meski terdengar kaku, justru inilah inti dari barefoot running. Tanpa bantuan bantalan, kaki dipaksa bekerja secara alami untuk meredam benturan.
Performa
Dalam uji coba larinya, A Rachman merasa sandal ini sangat mumpuni untuk lari santai (easy run) di area jalan datar.
Namun, ia mencatat adanya keterbatasan jika dipaksa lari dalam kecepatan tinggi (high pace).
Menurutnya, sandal ini lebih mengedepankan kenyamanan sirkulasi dan kebebasan jari kaki.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
FIGC Rela Jebol Rekening Demi Rekrut Pep Guardiola Latih Timnas Italia
-
Memaknai Hari Anak Nasional: Pesantren Sebagai Ruang Tumbuh Karakter Anak
-
JF3 Fashion Festival 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Lebih dari 50 Desainer Dunia
-
Jebakan Scrolling: Saat Media Sosial Mengambil Ruang bagi Kreativitas Kita
-
Rupiah Bangkit Lawan Dolar AS Imbas Sentimen Domestik Membaik
-
Selamat Jalan Sang Pionir: M Basri Arsitek di Balik Mahkota Pertama Singo Edan Berpulang
-
Tinggalkan Eropa, Casemiro Resmi Gabung Inter Miami dan Siap Main Bareng Lionel Messi
-
Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mentah Melonjak ke 96 Dolar AS
-
Heboh TNI-Polri Ikut Awasi Pajak, Bos DJP: Jangan Digoreng-goreng!
-
Bukan Sekadar Biji: Ambisi Lampung Menjadi Kiblat Cokelat Premium Dunia