Lifestyle / Female
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:02 WIB
Potret Konten Mutia Hanifah atau Mudi Di Sosial Media (Instagram/@ke.mudian)

Ia mengaku masih sering menemukan praktik jual beli satwa yang dianggap biasa oleh masyarakat, padahal sebagian di antaranya melanggar aturan.

“Salah satu isu lingkungan yang kurang dapat perhatian tapi dampaknya besar itu terkait perdagangan satwa liar di online. Bahkan banyak orang itu nggak sadar kalau itu ilegal,” katanya.

Di saat yang sama, ia juga melihat rendahnya literasi masyarakat mengenai kekayaan hayati Indonesia.

Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Menurut Mudi, banyak orang belum memahami bahwa keberadaan satwa dan tumbuhan bukan sekadar bagian dari alam, tetapi memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Jadi masyarakat ini mungkin jarang tahu kalau Indonesia itu sebenarnya kaya banget terhadap satwa dan tumbuhan. Makanya salah satu yang kuangkat adalah terkait pengenalan satwa-satwa tumbuhan dan hewan yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Mengubah Konten Menjadi Ajakan Bertindak

Untuk menjangkau lebih banyak orang, Mudi memilih mengemas pesan konservasi dengan pendekatan yang lebih ringan.

Ia menggunakan format konten yang mengikuti tren media sosial, visual yang mudah dipahami, dan bahasa yang dekat dengan audiens muda.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Modal: Pemberdayaan yang Membantu Masyarakat Prasejahtera Menjauh dari Rentenir

Menurutnya, tujuan edukasi bukan membuat isu terdengar rumit, tetapi membuat masyarakat memahami mengapa isu tersebut penting.

“Kita pakai tren-tren yang Gen Z banget. Bahasanya enggak kaku, jangan sampai pakai bahasa yang tinggi dan sulit dimengerti. Agar masyarakat itu paham terhadap isu yang disampaikan, bukan agar terlihat keren kitanya,” jelasnya.

Namun bagi Mudi, informasi saja tidak cukup. Ia selalu berusaha menutup kontennya dengan ajakan tindakan yang konkret dan mudah dilakukan.

Mulai dari membawa wadah makan sendiri, menggunakan botol isi ulang, hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Aku sering kasih contoh-contoh hal kecil yang sebenarnya bisa mereka lakukan dan itu membantu menjaga lingkungan secara enggak langsung. Di akhir konten pasti ada call to action, apa yang harus dilakukan,” tuturnya.

Dari Konten ke Kebiasaan Baru

Di tengah anggapan bahwa media sosial identik dengan hiburan dan distraksi, Mudi melihat peluang lain: menjadikannya ruang untuk membangun kebiasaan baru.

Sebab menurutnya, menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari aksi besar. Terkadang, perubahan hadir dari satu kebiasaan kecil yang terus diulang, dan satu konten yang membuat seseorang berhenti sejenak untuk berpikir ulang tentang caranya hidup.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More