Menjelang siang, kami berkumpul di bawah rindangnya pepohonan untuk saling berbagi temuan. Lembar-lembar zine yang dibawa peserta perlahan dipenuhi catatan dan evaluasi. Duduk di hamparan rumput yang mulai menipis di beberapa bagian, diskusi mengalir semakin hidup.
Dari kelompok Fasilitas, Maya melontarkan satu pengamatan yang mengundang tawa sekaligus refleksi.
“Namanya Cattleya, diambil dari bunga anggrek. Tapi dari ujung ke ujung kita enggak menemukan anggrek sama sekali,” ujarnya.
Meski banyak peserta sepakat bahwa Cattleya merupakan salah satu taman yang nyaman untuk keluarga, sejumlah catatan tetap muncul. Area danau, misalnya, belum dilengkapi pagar pengaman. Papan informasi mengenai tata tertib pengunjung juga sangat minim.
Sementara itu, kelompok Vegetasi dan Infrastruktur Hijau menemukan sisi lain yang jarang diperhatikan pengunjung. Di balik rimbunnya kanopi pohon, taman ini menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup kaya.
Pohon kamboja, janda merana, hingga bintaro tumbuh di berbagai sudut taman. Kupu-kupu beterbangan di antara semak, katak muncul di area basah, sementara kawanan soang berkeliaran di dekat danau. Namun kekayaan itu nyaris tak memiliki penjelasan.
“Harusnya ada plang informasi. Jenis pohonnya banyak, tapi orang awam enggak bakal tahu kalau enggak dikasih penjelasan,” ujar salah satu peserta.
Di situlah kami menyadari bahwa Taman Cattleya bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga menyimpan potensi sebagai ruang belajar tentang alam di tengah kota.
Pagi itu, diskusi berlangsung hangat. Orang-orang yang beberapa jam sebelumnya belum saling mengenal, kini sibuk bertukar gagasan tentang bagaimana taman kota bisa menjadi lebih inklusif, aman, dan edukatif. Kegelisahan yang sama tentang ruang publik perlahan mencairkan kecanggungan, menyisakan satu keyakinan: taman bukan sekadar ruang hijau, melainkan ruang bersama yang layak dirawat dan diperjuangkan.
Baca Juga: Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
Membelah Kota Menuju Jakarta Future Festival
Menjelang pukul 11.00 WIB, sesi pemetaan Taman Cattleya berakhir. Namun, perjalanan kami belum selesai.
Bersama komunitas Ayo ke Taman, kami melanjutkan langkah menuju Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini yang menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Jakarta Future Festival. Perjalanan ditempuh menggunakan transportasi umum, mulai dari TransJakarta hingga kereta komuter, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan TIM.
Perjalanan itu terasa seperti pengingat bahwa ruang publik tidak berdiri sendiri. Taman, trotoar, halte, stasiun, hingga pusat kegiatan warga saling terhubung dalam satu ekosistem kota yang menentukan apakah sebuah ruang benar-benar mudah diakses atau tidak.
Di sepanjang perjalanan, diskusi tentang Taman Cattleya masih terus berlanjut. Catatan mengenai aksesibilitas, fasilitas publik, hingga potensi edukasi lingkungan berubah menjadi percakapan tentang bagaimana kota yang lebih ramah warga seharusnya dibangun.
Setibanya di TIM, suasana berbeda langsung terasa. Di tengah keramaian Jakarta Future Festival, peserta Ayo ke Taman membagikan hasil pengamatan mereka, bertukar ide, sekaligus menyampaikan harapan untuk masa depan ruang terbuka hijau Jakarta.
Yang menarik, sebagian peserta baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Ada yang datang dari Bogor, ada pula yang berangkat dari Tangerang Selatan. Mereka berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ketertarikan yang sama terhadap ruang publik dan lingkungan.
Bagi mereka, kegiatan seperti ini bukan sekadar jalan-jalan ke taman. Ada proses belajar untuk melihat kota dari sudut pandang yang berbeda: memahami kebutuhan pejalan kaki, memetakan hambatan akses, hingga mengenali keanekaragaman hayati yang sering luput dari perhatian.
Pengalaman sehari itu menunjukkan bahwa menjaga taman kota bukan hanya tugas pemerintah. Warga juga dapat berperan sebagai pengamat, pengguna, sekaligus pemberi masukan bagi ruang publik yang mereka gunakan setiap hari.
Di tengah tantangan Jakarta sebagai kota megapolitan, inisiatif seperti Ayo ke Taman menghadirkan ruang kolaborasi yang sederhana namun penting. Dari sebuah jalan kaki bersama, lahir percakapan tentang kota yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih nyaman untuk ditinggali.
Sebab pada akhirnya, taman bukan hanya tentang pohon dan hamparan rumput. Ia adalah ruang pertemuan warga, tempat gagasan tumbuh, dan tempat harapan tentang masa depan kota dapat dirawat bersama.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
4 Sepatu Lari Super Trainer Pesaing Adidas Adizero Evo SL, Terbaik Buat Jarak Jauh
-
Saat Pakaian Lama Punya Hidup Baru: Inspirasi Fashion Berkelanjutan dari Uniqlo
-
Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan
-
Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240
-
Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro
-
4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari
-
4 Shio dengan Hari Kurang Beruntung pada Juni 2026, Simak Prediksinya
-
Mudi dan Cara Baru Mengenalkan Konservasi: Tidak Selalu dari Hutan, Bisa dari Media Sosial
-
Apa Itu Solid Perfume? Ini Kelebihan dan Kekurangannya Dibandingkan Parfum Cair
-
5 Cushion Terlaris di TikTok, Penjualannya Tembus Jutaan Produk