Lifestyle / Female
Jum'at, 12 Juni 2026 | 13:10 WIB
Potret Orang Sedang Berbelanja Baju (Pexels/Sam Lion)

Suara.com - Industri fast fashion terus menjadi pilihan banyak konsumen meski dampaknya terhadap lingkungan semakin sering dibicarakan.

Harga yang murah, kemudahan akses, dan kemampuan menghadirkan tren baru dalam waktu singkat membuat model bisnis ini tetap menarik, terutama bagi konsumen yang ingin mengikuti perkembangan mode tanpa mengeluarkan biaya besar.

Padahal, di balik harga yang terjangkau, industri fashion menyimpan jejak lingkungan yang tidak kecil.

Data yang dikutip dari Earth.org menunjukkan proses pewarnaan dan finishing dalam produksi pakaian menyumbang sekitar 3 persen emisi karbon dioksida (CO) global dan lebih dari 20 persen polusi air di dunia.

Namun, tingginya kesadaran terhadap isu lingkungan belum otomatis mengubah perilaku belanja masyarakat.

Laporan yang dikutip dari The Conversation menyoroti adanya kesenjangan antara pengetahuan konsumen dan keputusan yang diambil saat berbelanja.

Banyak orang memahami dampak negatif fast fashion, tetapi tetap melakukan pembelian karena faktor harga murah dan kepuasan yang diperoleh secara langsung.

Salah satu penjelasan yang muncul dalam penelitian The New Shopping Paradoxes: When Efficiency and Responsibility Backfire adalah fenomena temporal discounting.

Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk lebih mengutamakan manfaat jangka pendek dibanding konsekuensi yang akan muncul di masa depan.

Baca Juga: Larangan Impor Sampah Plastik China Memperburuk Kualitas Udara di Indonesia, Bagaimana Bisa?

Dalam konteks fast fashion, konsumen cenderung lebih fokus pada rasa puas saat mendapatkan pakaian baru dengan harga murah dibanding memikirkan dampak lingkungan yang muncul dari proses produksinya.

Faktor psikologis ini juga diperkuat oleh perubahan cara industri fashion bekerja.

Merek fast fashion kini mampu mengubah tren yang muncul di media sosial menjadi produk dalam waktu sangat singkat. Siklus yang cepat membuat konsumen terus terpapar model baru dan menciptakan rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO).

Kondisi tersebut mendorong pembelian impulsif yang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan.

Di sisi lain, industri fast fashion terus menghadapi kritik karena berkaitan dengan persoalan limbah tekstil, emisi karbon, dan kondisi kerja di rantai produksinya.

Namun, penelitian Sustainable Fashion, Circularity and Consumer Behavior – Systematic Review and a Social Marketing Research and Policy Agenda menyebut bahwa meningkatkan kesadaran publik saja belum cukup untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi.

Peneliti menilai diperlukan pendekatan yang lebih luas, mulai dari kebijakan yang mendukung konsumsi berkelanjutan, transparansi dari pelaku industri, hingga tersedianya produk fashion yang lebih ramah lingkungan dengan harga yang dapat dijangkau.

Dengan kata lain, tantangan mengurangi ketergantungan pada fast fashion bukan hanya soal membuat konsumen lebih sadar, tetapi juga memastikan pilihan yang lebih berkelanjutan dapat diakses dan menjadi alternatif yang realistis di pasar.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More