Suara.com - Industri fast fashion terus menjadi pilihan banyak konsumen meski dampaknya terhadap lingkungan semakin sering dibicarakan.
Harga yang murah, kemudahan akses, dan kemampuan menghadirkan tren baru dalam waktu singkat membuat model bisnis ini tetap menarik, terutama bagi konsumen yang ingin mengikuti perkembangan mode tanpa mengeluarkan biaya besar.
Padahal, di balik harga yang terjangkau, industri fashion menyimpan jejak lingkungan yang tidak kecil.
Data yang dikutip dari Earth.org menunjukkan proses pewarnaan dan finishing dalam produksi pakaian menyumbang sekitar 3 persen emisi karbon dioksida (CO) global dan lebih dari 20 persen polusi air di dunia.
Namun, tingginya kesadaran terhadap isu lingkungan belum otomatis mengubah perilaku belanja masyarakat.
Laporan yang dikutip dari The Conversation menyoroti adanya kesenjangan antara pengetahuan konsumen dan keputusan yang diambil saat berbelanja.
Banyak orang memahami dampak negatif fast fashion, tetapi tetap melakukan pembelian karena faktor harga murah dan kepuasan yang diperoleh secara langsung.
Salah satu penjelasan yang muncul dalam penelitian The New Shopping Paradoxes: When Efficiency and Responsibility Backfire adalah fenomena temporal discounting.
Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk lebih mengutamakan manfaat jangka pendek dibanding konsekuensi yang akan muncul di masa depan.
Baca Juga: Larangan Impor Sampah Plastik China Memperburuk Kualitas Udara di Indonesia, Bagaimana Bisa?
Dalam konteks fast fashion, konsumen cenderung lebih fokus pada rasa puas saat mendapatkan pakaian baru dengan harga murah dibanding memikirkan dampak lingkungan yang muncul dari proses produksinya.
Faktor psikologis ini juga diperkuat oleh perubahan cara industri fashion bekerja.
Merek fast fashion kini mampu mengubah tren yang muncul di media sosial menjadi produk dalam waktu sangat singkat. Siklus yang cepat membuat konsumen terus terpapar model baru dan menciptakan rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO).
Kondisi tersebut mendorong pembelian impulsif yang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan.
Di sisi lain, industri fast fashion terus menghadapi kritik karena berkaitan dengan persoalan limbah tekstil, emisi karbon, dan kondisi kerja di rantai produksinya.
Namun, penelitian Sustainable Fashion, Circularity and Consumer Behavior – Systematic Review and a Social Marketing Research and Policy Agenda menyebut bahwa meningkatkan kesadaran publik saja belum cukup untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi.
Peneliti menilai diperlukan pendekatan yang lebih luas, mulai dari kebijakan yang mendukung konsumsi berkelanjutan, transparansi dari pelaku industri, hingga tersedianya produk fashion yang lebih ramah lingkungan dengan harga yang dapat dijangkau.
Dengan kata lain, tantangan mengurangi ketergantungan pada fast fashion bukan hanya soal membuat konsumen lebih sadar, tetapi juga memastikan pilihan yang lebih berkelanjutan dapat diakses dan menjadi alternatif yang realistis di pasar.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian