Suara.com - Selama ini, ada satu asumsi yang cukup umum dalam memahami pencemaran plastik: jika sampah plastik cukup lama terkena sinar matahari, material tersebut pada akhirnya akan terurai dengan sendirinya.
Asumsi itu tidak sepenuhnya keliru. Banyak penelitian memang menunjukkan bahwa sinar ultraviolet (UV) dapat memecah struktur plastik melalui proses yang dikenal sebagai fotodegradasi—serangkaian reaksi kimia yang membuat plastik perlahan rapuh dan terfragmentasi.
Namun, ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Jika sinar matahari mampu mengurai plastik, mengapa sampah plastik tetap bertahan bertahun-tahun di sungai, danau, dan lautan?
Pertanyaan itu mendorong Profesor teknik lingkungan dari Northwestern’s McCormick School of Engineering, Ludmilla Aristilde, dan timnya untuk melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi ketika plastik berada di lingkungan perairan.
“Dalam literatur ilmiah, banyak dilaporkan bahwa sinar ultraviolet dapat memfasilitasi penguraian plastik secara signifikan dalam proses yang disebut fotodegradasi,” kata Ludmilla.
“Tetapi jika demikian, mengapa puing-puing plastik begitu lambat terurai di perairan permukaan kita?”
Masalahnya bukan pada matahari, tetapi pada air
Temuan tim peneliti menunjukkan bahwa hambatan utama ternyata bukan kurangnya paparan cahaya, melainkan kondisi kimia air itu sendiri.
Air di alam bukan sekadar HO. Di dalamnya terdapat campuran garam, ion mineral, serta bahan organik alami yang berasal dari sisa tumbuhan dan aktivitas mikroorganisme.
Baca Juga: Lautan Eceng Gondok Selimuti Permukaan Sungai Citarum
Menurut penelitian tersebut, komponen-komponen ini dapat mengganggu proses fotodegradasi yang sebelumnya dianggap sebagai mekanisme alami pengurai plastik.
Untuk mengujinya, para peneliti membuat simulasi kondisi air laut dan air tawar menggunakan air buatan yang mengandung komposisi kimia menyerupai lingkungan nyata. Sampel plastik polistirena kemudian ditempatkan di dalamnya dan disinari menggunakan cahaya buatan yang meniru sinar matahari selama sekitar tiga bulan.
Tim kemudian menganalisis perubahan pada permukaan plastik hingga tingkat mikroskopis dan molekuler.
“Kami menggunakan berbagai teknik untuk memeriksa permukaan plastik pada tingkat mikroskopis dan molekuler,” ujar Ludmilla.
Hasilnya menunjukkan bahwa plastik tetap mengalami kerusakan akibat cahaya pada seluruh kondisi percobaan. Namun, laju penguraiannya jauh lebih lambat ketika plastik berada di air yang mengandung komposisi kimia seperti kondisi alami.
Plastik dan air ternyata ‘bersaing’ mendapatkan energi matahari
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular