Lifestyle / Female
Kamis, 18 Juni 2026 | 14:39 WIB
wakil ketua BEM UI Fatimah Azzahra (linkedin)
Baca 10 detik
  • Wakil Ketua BEM UI, Fatimah Azzahra, mengkritisi kebijakan Program Makan Bergizi Gratis dalam diskusi publik bersama Partai Gerindra.
  • Fatimah menekankan bahwa pemerintah harus memprioritaskan perbaikan akses pendidikan dan infrastruktur dasar di daerah sebelum menjalankan program tambahan.
  • Pernyataan kritis tersebut memicu perdebatan luas di media sosial mengenai efektivitas prioritas pembangunan nasional bagi anak-anak Indonesia.

Suara.com - Nama Fatimah Azzahra menjadi sorotan publik setelah tampil dalam diskusi mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong.

Perempuan yang menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) periode 2026 itu menarik perhatian karena argumentasinya yang kritis terkait prioritas pembangunan nasional.

Pernyataannya dalam forum tersebut viral di media sosial dan memicu perdebatan mengenai hubungan antara pemenuhan gizi anak dan akses pendidikan di daerah tertinggal.

Sejak saat itu, banyak masyarakat yang mencari informasi mengenai siapa sebenarnya Fatimah Azzahra yang kini menjadi salah satu pimpinan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia tersebut.

Adu Argumen soal Program Makan Bergizi Gratis

Nama Fatimah Azzahra ramai diperbincangkan setelah terlibat dalam diskusi yang membahas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong.

Dalam forum tersebut, Bahtra menjelaskan bahwa MBG tidak hanya bertujuan untuk mengatasi persoalan stunting atau kekurangan gizi pada anak. Menurutnya, program tersebut juga memiliki dampak ekonomi yang luas karena melibatkan berbagai sektor usaha dan masyarakat.

Ia menyebut para petani, peternak, nelayan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut memperoleh manfaat dari rantai pasok kebutuhan pangan untuk ribuan dapur MBG yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, Bahtra juga menyoroti kondisi anak-anak di daerah kepulauan yang masih harus berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. Menurutnya, program tersebut dapat membantu memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sehingga mereka dapat belajar dengan lebih baik.

Menanggapi pandangan tersebut, Fatimah Azzahra menyampaikan perspektif berbeda. Ia menilai masih terdapat persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian pemerintah sebelum menghadirkan program tambahan seperti MBG.

Baca Juga: Ahli Pendidikan Tolak Adanya MBG: Lebih dari 2 Juta Pegawai Kantin Tergusur karena Program Ini

Menurut Fatimah, akses pendidikan dan infrastruktur dasar di sejumlah daerah masih menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan. Ia mencontohkan masih adanya anak-anak yang kesulitan mengakses sekolah karena kondisi jalan yang rusak, jarak tempuh yang jauh, hingga keterbatasan fasilitas pendidikan.

"Saya rasa tadi sudah bahkan disebutkan ya, bahwa ada sesuatu yang lebih genting sebetulnya dari mengisi perut lapar, yaitu bagaimana anak-anak di daerah yang akses pada sekolahnya itu masih terhambat," ujarnya.

Fatimah juga menegaskan bahwa kebutuhan dasar dan standar pelayanan publik harus dipenuhi terlebih dahulu agar berbagai program tambahan dapat berjalan lebih efektif.

"Sebelum kita memberikan yang tambahan-tambahannya, additionalnya yaitu dari bentuk MBG ini makan bergizi gratis, apa yang wajib-wajib dan standarnya perlu dipenuhi dulu," lanjutnya.

Pernyataan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Banyak warganet memberikan apresiasi terhadap keberanian dan kemampuan Fatimah dalam menyampaikan kritik secara terbuka dalam ruang diskusi publik.

Profil Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI 2026

Fatimah Azzahra merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Ia menempuh pendidikan pada program Sarjana Kedokteran Universitas Indonesia sejak Juli 2023 hingga 2027.

Load More