- Tim pengabdian ITB dan IPB memperkenalkan rumpon portabel beratraktor suara bagi nelayan di Desa Kabetan, Sulawesi Tengah.
- Program yang berlangsung sejak Oktober 2025 ini memberikan pelatihan teknis agar nelayan mampu mengoperasikan alat secara mandiri.
- Penggunaan teknologi ini berhasil meningkatkan jumlah tangkapan ikan pelagis serta membantu nelayan di perairan dangkal tersebut.
Suara.com - Bagi banyak nelayan di desa-desa pesisir Indonesia, melaut belum tentu berarti memperoleh penghasilan yang cukup. Keterbatasan teknologi membuat sebagian besar nelayan hanya menangkap ikan di perairan dangkal. Akibatnya, hasil tangkapan didominasi ikan karang dengan nilai jual relatif rendah, sementara potensi ikan pelagis yang memiliki harga lebih tinggi masih sulit dimanfaatkan.
Kondisi tersebut juga dialami nelayan di Desa Kabetan, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor perikanan, tetapi masih mengandalkan alat tangkap sederhana yang membatasi jangkauan penangkapan.
Alih-alih hanya memberikan bantuan alat, tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama IPB University mencoba pendekatan berbeda. Mereka mengembangkan rumpon portabel berbasis atraktor suara, sebuah teknologi yang dirancang untuk membantu nelayan menjangkau ikan pelagis sekaligus mudah dirakit, dioperasikan, dan dirawat secara mandiri.
Mengapa bantuan alat sering belum cukup?
Dalam berbagai program pemberdayaan nelayan, bantuan alat tangkap kerap menjadi solusi utama. Namun, tidak sedikit bantuan yang akhirnya tidak dimanfaatkan secara optimal karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau minim pendampingan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat ITB, Dr. Sri Raharno, mengatakan teknologi seharusnya tidak berhenti pada tahap penyerahan alat, tetapi harus dapat digunakan dalam kondisi nyata di lapangan.
"Teknologi yang kami kembangkan harus dapat digunakan oleh masyarakat dalam kondisi nyata. Karena itu, kegiatan ini tidak hanya berupa penyerahan alat, tetapi juga pelatihan, pendampingan, dan implementasi langsung di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," ujarnya.
Atas dasar itu, program yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026 tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga pendampingan bagi nelayan agar mampu mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri.
Bagaimana rumpon portabel bekerja?
Baca Juga: Slip of the Tongue 'Ndasmu' Prabowo di Penas: Gaya Autentik atau Asal?
Rumpon merupakan alat bantu yang berfungsi mengumpulkan ikan pada suatu titik tertentu sehingga lebih mudah ditangkap nelayan.
Tim ITB mengembangkan versi portabel yang dilengkapi atraktor suara untuk menarik ikan pelagis. Teknologi tersebut dirancang dapat dioperasikan hingga kedalaman sekitar 30 meter, mudah dipindahkan, dan sesuai dengan karakteristik perairan di Desa Kabetan.
Sebelum diterapkan kepada masyarakat, rumpon portabel terlebih dahulu diuji di lapangan. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan jumlah tangkapan sekaligus keragaman jenis ikan dibandingkan metode sebelumnya. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar penyempurnaan desain sebelum digunakan secara lebih luas.
Pada Juni 2026, tim mulai menerapkan program di Desa Kabetan melalui pelatihan, pendampingan, dan penyediaan sarana penangkapan ikan.
Sebanyak enam unit rumpon portabel berbasis atraktor suara diserahkan kepada kelompok nelayan, disertai 23 paket jaring insang monofilament, 10 paket pancing ulur, serta lima unit lampu jalan tenaga surya untuk mendukung aktivitas masyarakat pesisir.
Namun, menurut Sri Raharno, inti program bukan terletak pada jumlah bantuan yang diberikan, melainkan pada kemampuan masyarakat mengelola teknologi tersebut secara berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
5 Cara Layering Serum yang Tepat agar Wajah Glowing dan Skincare Bekerja Maksimal
-
Apa Bedanya Butter dan Margarin? Sering Dikira Sama padahal Beda Fungsinya
-
Fenomena Udang Naik ke Daratan Bisa Jadi Sinyal Gangguan Ekosistem Sungai, Mengapa?
-
2.671 Substrat Karang Dipasang di Kepulauan Seribu, Bisakah Percepat Pemulihan Terumbu Karang?
-
3 Krim Apotek Pencerah Wajah Tanpa Resep Dokter, Ampuh Hempas Noda Hitam
-
5 CCTV Bentuk Bohlam Lampu yang Praktis, Tinggal Putar dan Bisa Lihat Seluruh Ruangan
-
4 Rekomendasi Body Mask Lokal untuk Kulit Lembut Cerah Merata, Lengkap dengan Review
-
Apakah Bedak Kedaluwarsa Masih Boleh Dipakai? Kenali Ciri-Ciri dan Risikonya
-
5 Eye Cream Lokal untuk Hilangkan Garis Halus dan Kerutan, Lengkap dengan Review
-
Feng Shui Letak Meja Makan di Rumah yang Tepat agar Rezeki Keluarga Mengalir Deras