“Rumah saya kebetulan ada lubang (void), terus pas lagi kerja itu tiba-tiba ada bau. Jaraknya sekitar 80 sampe 100 meter lah (dari kebun),” katanya.
Menurut Andhi, bau menyengat itu masih dapat tercium meski rumahnya berjarak 80 meter dari lokasi. Kondisi tersebut membuatnya bertanya-tanya dari mana aroma itu berasal hingga akhirnya ia mengetahui bahwa sumbernya bersumber dari lahan yang kini telah berubah menjadi kebun ini.
“Pas begitu boleh mulai keluar, saya keliling dan ketemu ibu-ibu bank sampah. Dulu ini belum ada pagar, masih terbuka. Begitu saya keliling, ketemulah di sini kubangan. Lemari, kursi bekas, kasur, karpet, pampers, botol, beling,” ujarnya.
Meskipun ada bank sampah,hal ini tidak menyelesaikan permasalahan bau menyengat tersebut. Sampah-sampah yang dikumpulkan itu sudah melalui proses pemilahan, sehingga sampah yang benar-benar sudah tidak bernilai guna tetap menjadi sampah.
“Walaupun ada bank sampah, orang kan gak mau ambil yang udah jadi kotoran. Kan itu permasalahannya,” bebernya.
Dari situlah Andhi tak ingin tinggal diam. Bersama pengurus RT dan warga sekitar, ia mulai membersihkan lahan yang selama ini menjadi tempat sampah. Sedikit demi sedikit, tumpukan sampah diangkut, termasuk merapikan lahan.
“Yang bisa gerakin warga kan ya RT,” tutur Andhi.
Awalnya gerakan ini melibatkan belasan warga, tetapi perlahan berkurang karena perbedaan kesibukan. Pernah waktu itu hanya tersisa dua orang sampai saat ini terhitung tiga orang yang bertahan (Andhi, Zul, dan Ali).
“Tapi mereka cuma kerja beberapa kali, abis itu turun, sembilan orang, lima orang,” tambahnya.
Baca Juga: Apa Saja Hewan di Kebun Binatang Surabaya? Kondisi Satwa Disorot usai Eks Dirut Korupsi
Langkah Kecil Berdampak Besar
Membersihkan lahan itu ternyata bukan akhir dari perjalanan mereka. Justru dari sanalah semuanya dimulai.
Perlahan, apa yang dilakukan Andhi dan warga mulai menarik perhatian.
Sebelum Tani Kota Sejati-58 Kebagusan terbentuk, kawasan ini sebenarnya sudah meraih sertifikat Program Kampung Iklim (ProKlim) tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 2023. Namun, ketika diusulkan mengikuti penilaian tingkat nasional setahun kemudian, pengelolaan kebun menjadi salah satu bagian yang ikut dilibatkan.
"Dari tingkat provinsi ke nasional, tentu ada perubahan yang signifikan dong. Pak RW jadi ketuanya, saya dijadikan wakil," kata Andhi.
Menurutnya, mengikuti ProKlim tingkat nasional membutuhkan persiapan yang jauh lebih besar. Upaya menjaga lingkungan tidak lagi bergantung pada segelintir orang, tetapi harus melibatkan seluruh warga.
Pengurus RW kemudian membagi 10 RT ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing memiliki tugas berbeda agar program berjalan dan tetap berkelanjutan.
"Sepuluh RT dibagi beberapa kelompok. Karena ProKlim ini historinya enggak boleh hilang. Ini kan baru, 2024," ujarnya.
Persiapan itu juga membuka peluang kolaborasi. Bantuan mulai berdatangan dari berbagai pihak, mulai dari sarana dan prasarana hingga bibit tanaman.
"Begitu berjalan, singkat cerita kami juga dibantu karena tingkat nasional ya, bantuan juga dari mana-mana," katanya.
Bagi Andhi, pencapaian ProKlim tingkat nasional bukan semata soal penghargaan. Yang lebih penting adalah tumbuhnya keterlibatan warga dalam merawat lingkungan tempat mereka tinggal.
Kini, lahan yang dahulu dipenuhi tumpukan sampah telah berubah menjadi kebun yang ditanami beragam sayuran, pohon buah, dan kolam ikan. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari kerja bersama yang dilakukan sedikit demi sedikit.
Perjalanan Tani Kota Sejati-58 Kebagusan menunjukkan bahwa perubahan bisa berawal dari sebuah keresahan. Ketika keresahan itu bertemu dengan kemauan untuk bergerak dan gotong royong, ruang yang sebelumnya terbengkalai dapat memiliki fungsi baru bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Teknologi Biometrik Kemkomdigi Siap Putus Rantai Judi Online dan Mafia Scam Digital
-
Sisi Gelap Filipina, Orangtua Suruh Anak Sendiri Lakukan Adegan Dewasa, Video Dijual ke Pria Nakal
-
Review dan Tes Infinix Hot 40 Pro RAM 12 GB, HP Rp2 Jutaan Beneran Kuat Main Game Berat?
-
3 Kulkas Sharp 2 Pintu Termurah yang Hemat Listrik dan Anti Bau
-
Terancam Gagal Bayar, Purbaya Siapkan Tambahan Anggaran Rp 20 Triliun ke BPJS Kesehatan
-
Izin Hutan Kuansing Bermasalah, Pejabat Kemenhut dan ATR/BPN Dicecar KPK
-
Prabowo Libatkan TNI-Polri dalam Operasional Kopdes Merah Putih, Penyaluran Bansos Bakal Terpusat
-
Berapa Tarif Hotman Paris sebagai Pengacara?
-
6 Cara Mengakali Salah Shade Bedak agar Tetap Menyatu dengan Warna Kulit
-
Dedemit Kepala Putus yang Menyamar Menjadi Penjual Bakso Keliling