Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 24 Juli 2026 | 10:51 WIB
Penggerak Komunitas Tani Kota Sejati-58 Kebagusan (dok.pribadi/Chairun Nisa)

“Rumah saya kebetulan ada lubang (void), terus pas lagi kerja itu tiba-tiba ada bau. Jaraknya sekitar 80 sampe 100 meter lah (dari kebun),” katanya.

Menurut Andhi, bau menyengat itu masih dapat tercium meski rumahnya berjarak 80 meter dari lokasi. Kondisi tersebut membuatnya bertanya-tanya dari mana aroma itu berasal hingga akhirnya ia mengetahui bahwa sumbernya bersumber dari lahan yang kini telah berubah menjadi kebun ini.

“Pas begitu boleh mulai keluar, saya keliling dan ketemu ibu-ibu bank sampah. Dulu ini belum ada pagar, masih terbuka. Begitu saya keliling, ketemulah di sini kubangan. Lemari, kursi bekas, kasur, karpet, pampers, botol, beling,” ujarnya.

Meskipun ada bank sampah,hal ini  tidak menyelesaikan permasalahan bau menyengat tersebut. Sampah-sampah yang dikumpulkan itu sudah melalui proses pemilahan, sehingga sampah yang benar-benar sudah tidak bernilai guna tetap menjadi sampah.

“Walaupun ada bank sampah, orang kan gak mau ambil yang udah jadi kotoran. Kan itu permasalahannya,” bebernya.

Dari situlah Andhi tak ingin tinggal diam. Bersama pengurus RT dan warga sekitar, ia mulai membersihkan lahan yang selama ini menjadi tempat sampah. Sedikit demi sedikit, tumpukan sampah diangkut, termasuk merapikan lahan.

“Yang bisa gerakin warga kan ya RT,” tutur Andhi.

Awalnya gerakan ini melibatkan belasan warga, tetapi perlahan berkurang karena perbedaan kesibukan. Pernah waktu itu hanya tersisa dua orang sampai saat ini terhitung tiga orang yang bertahan (Andhi, Zul, dan Ali).

“Tapi mereka cuma kerja beberapa kali, abis itu turun, sembilan orang, lima orang,” tambahnya.

Baca Juga: Apa Saja Hewan di Kebun Binatang Surabaya? Kondisi Satwa Disorot usai Eks Dirut Korupsi

Langkah Kecil Berdampak Besar

Membersihkan lahan itu ternyata bukan akhir dari perjalanan mereka. Justru dari sanalah semuanya dimulai.

Perlahan, apa yang dilakukan Andhi dan warga mulai menarik perhatian.

Sebelum Tani Kota Sejati-58 Kebagusan terbentuk, kawasan ini sebenarnya sudah meraih sertifikat Program Kampung Iklim (ProKlim) tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 2023. Namun, ketika diusulkan mengikuti penilaian tingkat nasional setahun kemudian, pengelolaan kebun menjadi salah satu bagian yang ikut dilibatkan.

"Dari tingkat provinsi ke nasional, tentu ada perubahan yang signifikan dong. Pak RW jadi ketuanya, saya dijadikan wakil," kata Andhi.

Menurutnya, mengikuti ProKlim tingkat nasional membutuhkan persiapan yang jauh lebih besar. Upaya menjaga lingkungan tidak lagi bergantung pada segelintir orang, tetapi harus melibatkan seluruh warga.

Pengurus RW kemudian membagi 10 RT ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing memiliki tugas berbeda agar program berjalan dan tetap berkelanjutan.

"Sepuluh RT dibagi beberapa kelompok. Karena ProKlim ini historinya enggak boleh hilang. Ini kan baru, 2024," ujarnya.

Persiapan itu juga membuka peluang kolaborasi. Bantuan mulai berdatangan dari berbagai pihak, mulai dari sarana dan prasarana hingga bibit tanaman.

"Begitu berjalan, singkat cerita kami juga dibantu karena tingkat nasional ya, bantuan juga dari mana-mana," katanya.

Bagi Andhi, pencapaian ProKlim tingkat nasional bukan semata soal penghargaan. Yang lebih penting adalah tumbuhnya keterlibatan warga dalam merawat lingkungan tempat mereka tinggal.

Kini, lahan yang dahulu dipenuhi tumpukan sampah telah berubah menjadi kebun yang ditanami beragam sayuran, pohon buah, dan kolam ikan. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari kerja bersama yang dilakukan sedikit demi sedikit.

Perjalanan Tani Kota Sejati-58 Kebagusan menunjukkan bahwa perubahan bisa berawal dari sebuah keresahan. Ketika keresahan itu bertemu dengan kemauan untuk bergerak dan gotong royong, ruang yang sebelumnya terbengkalai dapat memiliki fungsi baru bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Penulis: Chairunisa

Load More