- Pemerintah memeriksa produk beras fortifikasi yang merupakan beras biasa dengan tambahan vitamin dan mineral untuk meningkatkan kualitas gizinya.
- WHO menyatakan penambahan mikronutrien seperti zat besi dan zinc bertujuan mencegah serta mengendalikan kekurangan zat gizi pada masyarakat.
- Konsumen disarankan memeriksa informasi kemasan dan label secara teliti karena beras fortifikasi sulit dibedakan dari beras biasa secara fisik.
Suara.com - Istilah beras fortifikasi belakangan menjadi perhatian setelah pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah produk beras yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi.
Lantas, apa itu beras fortifikasi dan apa bedanya dengan beras biasa?
Secara sederhana, beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral untuk meningkatkan nilai gizinya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa fortifikasi pangan merupakan praktik menambahkan satu atau lebih mikronutrien, terutama vitamin dan mineral, ke dalam makanan untuk meningkatkan kualitas gizi dan memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat.
Karena beras merupakan makanan pokok yang dikonsumsi secara luas, bahan pangan ini dapat digunakan sebagai salah satu kendaraan untuk menyampaikan mikronutrien kepada masyarakat.
Apa yang dimaksud dengan beras fortifikasi?
Beras fortifikasi bukan berarti beras yang berasal dari varietas padi khusus yang secara alami memiliki kandungan vitamin dan mineral lebih tinggi.
Konsep fortifikasi dilakukan dengan menambahkan zat gizi tertentu ke dalam beras setelah atau selama proses pengolahan.
WHO menjelaskan bahwa beras dapat difortifikasi melalui beberapa metode. Salah satunya dengan menambahkan bubuk mikronutrien yang menempel pada butiran beras. Metode lainnya adalah melapisi permukaan butiran beras dengan campuran vitamin dan mineral.
Ada pula metode yang menggunakan beras hasil ekstrusi. Campuran tepung beras dan mikronutrien dibentuk menyerupai butiran beras, kemudian dicampurkan dengan beras biasa.
Dengan demikian, beras fortifikasi tetap terlihat seperti beras pada umumnya. Kandungan tambahan yang menjadi pembeda tidak selalu dapat diketahui hanya dengan melihat bentuk atau warna beras.
Apa saja kandungan beras fortifikasi?
Jenis zat gizi yang ditambahkan bergantung pada formulasi dan standar fortifikasi yang digunakan.
WHO menyebut sejumlah mikronutrien yang dapat digunakan dalam fortifikasi beras, antara lain zat besi, asam folat, vitamin B kompleks, vitamin A, dan zinc.
Mikronutrien tersebut dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif kecil, tetapi memiliki fungsi penting.
WHO menjelaskan bahwa mikronutrien berupa vitamin dan mineral diperlukan tubuh dalam jumlah kecil, tetapi berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan mikronutrien tertentu dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Karena itu, tujuan utama fortifikasi bukan membuat beras menjadi makanan yang bisa menggantikan seluruh kebutuhan gizi seseorang.