- Syakir Daulay mengenang awal mula karier filmnya di acara Santri Film Festival 2026 berkat pengalaman kreatif di pesantren.
- Syakir berpesan agar para santri menguasai kemampuan teknis dan sinema yang kuat guna menyampaikan nilai-nilai Islam secara mendalam.
- Santri Film Festival 2026 kembali digelar dengan mengusung tema The Verses in Motion serta menyediakan tiga kategori kompetisi.
Suara.com - Syakir Daulay mengenang bagaimana pesantren justru menjadi tempat awal dirinya mengenal dunia film dan berbagai kegiatan kreatif. Dari mengikuti drama teater, musik, hingga terlibat dalam televisi pesantren, pengalaman tersebut kemudian membawanya ke dunia perfilman.
Syakir menceritakan kisah itu saat hadir dalam Santri Film Festival (SANFFEST) 2026. Ia mengaku dulu sempat merasa jenuh dengan rutinitas belajar di pesantren dan mencoba berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luang.
“Satu waktu Syakir itu bosan di pesantren, bukan bosan, bete gitu. Namanya jenuh ya. Apa yang bisa asyik di pesantren? Ternyata waktu itu pertama ada drama teater di pesantren. Terus ada musik, pokoknya Syakir ngikut semuanya,” ujar Syakir.
Ia kemudian aktif di televisi pesantren yang saat itu bernama Tahfiz TV. Selain mengaji dan mengisi nasyid, Syakir juga belajar mengoperasikan kamera.
Kesempatan masuk ke dunia film datang ketika ia masih duduk di tingkat akhir pesantren. Seorang sutradara saat itu tengah mencari anak yang mampu mengaji untuk bermain dalam film tentang penghafal Al-Qur'an.
Syakir akhirnya ditawari bermain dalam film Surga Menanti. Ia mengaku saat itu sama sekali belum memiliki pengalaman syuting.
“Waktu itu Syakir belum pernah syuting sama sekali. Akhirnya, wah sebulan lumayan juga nih, enggak ada Syakir, kan belajar hal baru sambil refreshing,” tuturnya.
Namun, sebelum menerima tawaran tersebut, Syakir terlebih dahulu meminta izin kepada kiai. Ia pun mendapat izin untuk menjalani proses syuting selama sekitar satu bulan.
Dalam film tersebut, Syakir berkesempatan belajar langsung dari aktor Agus Kuncoro. Selain mendapatkan pengalaman berakting, ia juga belajar mengenai proses produksi film.
Pengalaman tersebut kemudian membuat Syakir semakin tertarik melanjutkan perjalanan di dunia entertainment. Menurutnya, keputusan itu juga dipengaruhi nasihat dari sang kiai yang memintanya menjadi “lampu” di tempat yang masih membutuhkan cahaya.
“Kalau kamu bisa jadi lampu di tempat yang gelap, di tempat yang orang enggak kepikiran buat kenal lebih ini sama Allah, buat lebih kenal sama Al-Qur'an, lebih kenal sama Rasulullah, kalau kamu bisa jadi lampu di tempat-tempat yang gelap, maka itu akan lebih baik,” kata Syakir, mengingat nasihat tersebut.
Dorong Santri Kuasai Teknik Film
Pengalaman dari pesantren hingga masuk ke industri film membuat Syakir melihat pentingnya santri ikut mengambil bagian dalam perkembangan dunia visual.
Menurut dia, di era digital, tontonan memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Karena itu, santri yang ingin menyampaikan nilai-nilai Islam melalui film juga perlu menguasai kemampuan teknis, bukan hanya memiliki pesan yang ingin disampaikan.
“Jangan asal sembarang bikin film. Syakir sampai sekarang masih terus belajar juga bagaimana teknis-teknisnya supaya kita bisa mengalahkan film-film yang mungkin enggak punya nilai,” ujarnya.