Wall Street Berdarah! Nasdaq Catat Rekor Pelemahan Sejak 2024 Akibat AI

Jum'at, 06 November 2026 | 08:16 WIB
Saham Wall Street anjlok
BACA 10 DETIK
  • Wall Street anjlok pada 5 November 2026 akibat kekhawatiran pengetatan regulasi AI pasca kemenangan Demokrat di Kongres.
  • Indeks Nasdaq Composite mengalami penurunan harian terbesar dalam 19 bulan dan masuk fase koreksi teknikal.
  • Volatilitas bursa AS menjalar ke Asia pada 5 November 2026, menyebabkan indeks Kospi Korsel anjlok tajam.

Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) terperosok tajam pada penutupan perdagangan Kamis (5/11/2026). Indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan harian terbesar dalam 19 bulan terakhir dan resmi memasuki fase koreksi teknikal.

Gelombang aksi jual masif yang menghantam sektor teknologi dan semikonduktor ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi pengetatan regulasi pada industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Berdasarkan analisis harian dari Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, CFP®, tekanan besar di bursa AS merembet secara langsung dari hasil pemilihan legislatif sela di AS pada Selasa (3/11/2026).

Kemenangan Partai Demokrat dalam menguasai Kongres memicu kecemasan bahwa pemerintah dan para legislator baru akan memberlakukan aturan yang lebih ketat terhadap ekspansi serta pembangunan pusat data (data center) yang menjadi tulang punggung pengembangan teknologi AI.

Pada akhir perdagangan Wall Street, indeks acuan berbasis teknologi Nasdaq Composite ambrol hingga 5,52 persen. Pelemahan dalam ini disusul oleh indeks S&P 500 yang anjlok 4,36 persen, sementara indeks Dow Jones Industrial Average turut tergerus 3,44 persen. Penurunan tajam ini mencerminkan kecemasan investor terhadap prospek pertumbuhan korporasi raksasa teknologi yang selama ini memimpin rally bursa saham global.

Aksi pelepasan saham berlangsung merata di hampir seluruh lini industri teknologi. Saham produsen chip terkemuka, Nvidia, menjadi salah satu korban utama setelah harganya meluncur turun lebih dari 9 persen. Pelemahan Nvidia turut menyeret indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) yang terjun bebas hingga lebih dari 12 persen dalam sehari.

Sektor penyedia infrastruktur pusat data mengalami tekanan yang tak kalah hebat. Saham IREN dan Applied Digital masing-masing ambles lebih dari 14 persen. Sementara itu, saham CoreWeave terkoreksi hampir 10 persen.

Raksasa teknologi lainnya juga memerah, di mana saham Meta Platforms merosot 4 persen, sedangkan Amazon.com dan Alphabet (induk usaha Google) masing-masing melemah 2,2 persen. Sektor pendukung infrastruktur energi seperti GE Vernova dan Constellation Energy turut terkena imbas dengan penurunan masing-masing sebesar 7,5 persen dan 2,5 persen.

Tekanan terhadap sektor teknologi kian diperparah oleh rilis proyeksi kinerja korporasi yang mengecewakan. Saham Qualcomm terpangkas 9,5 persen setelah perseroan menyampaikan estimasi penjualan chip untuk perangkat smartwatch pada kuartal IV-2026 yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Di tengah tekanan ini, perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) AS periode Oktober yang dijadwalkan meluncur pada Jumat (6/11/2026) guna membaca arah kebijakan ekonomi mendatang.

Bursa Asia Bergerak Variatif, Pasar Korsel Ambruk

Dampak volatilitas Wall Street menjalar ke bursa saham Asia pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Pergerakan pasar di kawasan regional cenderung bervariatif seiring respon investor terhadap rotasi dana dari saham-saham AI dan kecemasan atas pengetatan regulasi data center di AS.

Di Korea Selatan, indeks Kospi dan Kosdaq mengalami aksi jual ekstrem hingga anjlok lebih dari 5 persen. Sementara di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,8 persen, meski indeks Topix berhasil membalas dengan kenaikan 1,2 persen. Berseberangan dengan tren pelemahan, bursa Hong Kong dan Australia mencatatkan kinerja positif, di mana indeks Hang Seng melesat 3,7 persen dan indeks ASX 200 menguat 2,6 persen.

Sentimen negatif terhadap saham pusat data di bursa global dipicu oleh dinamika politik di tingkat negara bagian AS. Dalam pemilihan gubernur di Texas, kandidat dari Partai Demokrat, Gina Hinojosa, berhasil mengamankan kemenangan setelah mengusung janji kampanye berupa pembatasan ketat terhadap pembangunan fasilitas data center.

Kemenangan ini memperkuat persepsi bahwa penolakan industri berenergi tinggi tersebut mulai meluas, sehingga menekan saham-saham terkait seperti CoreWeave yang banyak berinvestasi pada infrastruktur pemrosesan data.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com