- HIPMI Jaya dan HIPMI Jakarta Timur menggelar forum JAYA OKB di Jakarta Selatan pada 15 Oktober 2026.
- CEO .TEMU Cafe Diatche Gunungtua Harahap menyatakan pengusaha wajib kreatif mencari pendanaan dengan perencanaan dan identitas merek matang.
- Direktur Utama Duasisi Ilyasa Dahlan mengingatkan risiko pinjaman valuta asing bagi bisnis berpendapatan rupiah akibat selisih kurs.
Suara.com - Menjalankan bisnis bukan sekadar soal meraih keuntungan. Ada kalanya usaha berkembang pesat, tetapi ada pula masa ketika penjualan melambat, biaya operasional meningkat, atau rencana ekspansi harus ditunda.
Situasi seperti ini menjadi bagian dari perjalanan pengusaha yang menuntut kemampuan beradaptasi dan mengambil keputusan dengan cermat.
Di tengah kondisi yang serba tidak pasti, pengusaha perlu memahami kapan harus bertahan, mencari peluang baru, atau mengevaluasi strategi yang selama ini dijalankan.
Mengelola keuangan dengan disiplin, membangun identitas bisnis yang kuat, dan menjaga hubungan dengan berbagai pihak juga menjadi bekal untuk melewati masa sulit.
CEO .TEMU Cafe, Diatche Gunungtua Harahap, menilai kreativitas dalam mencari pendanaan perlu diimbangi dengan perencanaan yang matang dan identitas merek yang kuat.
“Sebagai pengusaha, kita juga harus kreatif dalam mencari pendanaan. Yang jelas, semua itu harus dilandasi konsep dan perhitungan yang matang, serta brand identity yang bagus sebagai pengusaha,” ujarnya.
Selain kreativitas, kemampuan mengelola keuangan juga menjadi hal penting dalam perjalanan bisnis.
Pengusaha perlu mempertimbangkan penggunaan modal, kebutuhan operasional, dan risiko sebelum mengambil keputusan, termasuk ketika berencana menggunakan pinjaman untuk mengembangkan usaha.
Direktur Utama Duasisi Authorized Money Changer, Ilyasa Dahlan, mengingatkan pengusaha agar berhati-hati saat mengambil pinjaman dalam valuta asing, terutama jika pendapatan bisnis menggunakan rupiah.
“Sebelum mengambil pinjaman dalam valuta asing, lakukan analisis yang mendalam, terutama jika pendapatan usaha dalam bentuk rupiah. Saat rupiah melemah, kita bisa terkena double interest: satu dari bunga bank, satu lagi dari selisih kenaikan kurs,” jelasnya.
Ketika bisnis menghadapi kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran, pemahaman terhadap aspek hukum juga diperlukan.
Partner Infinitum Law Office, Roberth Aritonang, menyoroti pentingnya mempertimbangkan langkah yang tepat ketika pengusaha menghadapi risiko gagal bayar.
Pengalaman dan perspektif mengenai tantangan tersebut dibahas dalam forum JAYA OKB (Obrolan Keuangan & Bisnis) bertema “Jatuh Bangun Bisnis: In This Economy” yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya bersama HIPMI Jakarta Timur pada Kamis (15/10/2026).
Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Timur, Dhimas Pringgo, mengajak pengusaha untuk terus mencermati peluang di tengah perubahan kondisi global, termasuk dengan melihat sektor usaha yang masih memiliki prospek.
Sementara itu, Ketua Umum BPD HIPMI Jaya, M. Riandy Haroen, menekankan pentingnya memperkaya wawasan keuangan melalui pertukaran pengalaman dengan sesama pelaku usaha.
Lewat forum ini, pengusaha diharapkan tidak hanya mendapatkan perspektif baru untuk menghadapi tantangan, tetapi juga memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi.
Sebab, dalam perjalanan membangun bisnis, kemampuan belajar dari pengalaman dan menyesuaikan diri dengan perubahan menjadi bagian penting untuk menjaga usaha tetap berjalan.