- COO Danantara Dony Oskaria memimpin langsung restrukturisasi BUMN di Jakarta pada Senin (26/10/2026) tanpa konsultan eksternal.
- Danantara melikuidasi 364 perusahaan merugi dan mendivestasi 208 aset non-inti dari total 1.074 entitas BUMN.
- Danantara merampungkan konsolidasi sektor logistik, kesehatan, pariwisata, investasi, serta kawasan industri untuk efisiensi bisnis.
Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengeksekusi program restrukturisasi skala besar terhadap ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Proses perombakan fundamental ini dipimpin langsung oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, secara internal tanpa menggunakan jasa konsultan eksternal.
Dalam ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta pada Senin (26/10/2026), Dony menyampaikan bahwa perombakan dilakukan secara intensif melalui pengawalan operasional harian.
"Saya memimpin langsung proses transformasi ini sendiri setiap hari. Kami tidak menggunakan konsultan. Setidaknya saya memimpin 12 rapat setiap harinya hanya untuk mengawal proses ini satu per satu," ungkap Dony.
Penutupan Entitas Merugi dan Divestasi Aset Non-Inti
Dari total 1.074 entitas BUMN, Danantara telah menutup 364 perusahaan berskala kecil yang konsisten mengalami kerugian dalam kurun waktu 18 bulan terakhir. Target penutupan maupun likuidasi diproyeksikan mencapai 750 perusahaan hingga akhir tahun 2026, termasuk 50 anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan 124 entitas di bawah PT Pertamina (Persero).
Selain penutupan, Danantara mengendalikan aksi divestasi atas 208 perusahaan non-inti, khususnya pada anak usaha BUMN Konstruksi (Karya) yang memiliki aset di luar bisnis utama, seperti pengelolaan hotel dan jaringan serat optik.
Restrukturisasi Keuangan dan Konsolidasi Sektor Strategis
Danantara juga menerapkan penataan struktur keuangan ketat terhadap 15 korporasi pelat merah yang mengalami tekanan bisnis signifikan, di antaranya PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT PP (Persero) Tbk.
Pada ranah konsolidasi yang melibatkan sekitar 200 entitas, sejumlah aksi penggabungan usaha telah dirampungkan:
- Sektor Logistik: Penggabungan 7 perusahaan freight-forwarding ke dalam naungan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
- Sektor Kesehatan: Penyatuan 60 rumah sakit BUMN ke dalam jaringan Indonesia Healthcare Corporation (IHC).
- Sektor Pariwisata: Konsolidasi 72 aset hotel BUMN di bawah naungan Injourney Hospitality (HIN).
- Manajemen Investasi: Penggabungan 5 entitas manajemen investasi (Mandiri, BNI, BRI, dan PNM) menjadi pengelola aset terpadu dengan total dana kelolaan mencapai Rp190 triliun.
- Kawasan Industri: Integrasi 23 entitas pengelola kawasan industri menjadi satu pengelola tunggal berbasis lahan seluas 16.000 hektare.
Penyederhanaan Sektor Jasa Keuangan
Langkah perampingan lanjutan akan menyasar sektor jasa keuangan, dengan rencana penyerapan 16 perusahaan asuransi BUMN menjadi 3 entitas utama yang berfokus pada lini asuransi jiwa, umum, dan kredit. Sementara itu, entitas sekuritas milik negara akan dirampingkan menjadi 2 perusahaan saja.