Suara.com - Bagi sebagian orang, keberadaan lebah mungkin lebih sering diketahui sebagai penjaga keseimbangan ekosistem. Namun, serangga ini ternyata juga menyimpan potensi dalam pengembangan material ramah lingkungan.
Berdasarkan penelitian terbaru terungkap bahwa lapisan sarang lebah Colletes inaequalis memiliki material alami yang menyerupai plastik. Material tersebut bahkan mampu terurai secara alami di dalam tanah dalam waktu yang cenderung singkat.
Temuan itu berhasil dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dengan judul "Rapid soil degradation of a cross-linked, semicrystalline polythylene-like polyester produced by Colletes bees".
Melansir Phys, Rabu (4/11), lebah Colletes inaequalis dikenal sebagai cellophane bee. Lebah ini membangun sarangnya di bawah tanah dengan lapisan fleksibel dan transparan.
Lapisan tersebut tersusun atas poliester dan sutra yang dihasilkan melalui kelenjar khusus bernama Dufour's gland. Kelenjar inilah yang terhubungan dengan alat penyengat lebah.
Menariknya, material tersebut tidak terlihat menumpuk di lokasi sarang meskipun generasi lebah terus membangun sarang baru setiap tahunnya.
Peneliti menjelaskan bahwa kelompok lebah ini dapat membangun agregasi sarang yang terdiri atas lebih dari 10.000 sarang individu. Generasi selanjutnya bahkan kembali menggunakan lokasi yang sama selama puluhan tahun.
"Meski material plastik terus ditambahkan ke dalam tanah, material tersebut tampaknya tidak terakumulasi di area koloni Colletes," tulis peneliti dalam publikasi tersebut.
Mampu Terurai dalam Hitungan Bulan
Untuk memahami karakteristik material tersebut, peneliti melakukan serangkaian pengujian kimia, pemanasan, mikroskopi, dan hamburan sinar-X.
Pengamatan dilakukan terhadap lapisan sarang yang baru terbentuk. Peneliti kemudin membandingkannya dengan material yang telah berada di tanah selama empat, tujuh, dan sebelas bulan.
Hasilnya memperlihatkan kemampuan penguraian yang cukup menarik. Kandungan poliester dalam lapisan sarang turun dari 73 persen menjadi 40 perse berdasarkan berat dalam empat bulan.
Setelah tujuh bulan, lapisan tersebut mulai memperlihatkan retakan. Pada sisi lain, material yang telah berada di tanah selama 11 bulan menjadi rapuh dan mudah hancur.
Karakteristik itu yang menjadi fokus utama karena material awalnya bersifat fleksibel. Lapisan sarang juga mampu mempertahankan bentuk semula ketika dilipat atau diremas.
Kombinasi sifat fleksibel dan kemampuan terurai inilah yang diyakini punya potensi menjadi model pengembangan plastik sekali pakai.
Peluang Mengembangkan Plastik Berkelanjutan
Meskipun menunjukkan hasil menjanjikan, peneliti belum sepenuhnya mengetahui mekanisme yang membuat material tersebut cepat terurai.
Sekitar 60 persen poliester segar memiliki struktur kristalin berdasarkan analisis komposisinya. Struktur semacam ini umumnya berkaitan dengan ketahanan material terhadap proses penguraian.
Namun, tim peneliti menduga adanya susunan kristal yang kurang teratur. Kondisi tersebut memungkinkan air dan enzim menjangkau bagian material yang lebih mudah terurai.
Tak hanya itu, lapisan sarang yang baru terbentuk dan berusia empat bulan mengandung enzim yang mampu memecah ikatan enzim pada bahan uji.
Temuan tersebut membuka peluang bahwa enzim secara tidak langsung berperan dalam proses penguraian material. Meski demikian, peneliti masih membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk memastikan mekanismenya.
Dalam publikasi tersebut, tim peneliti menekankan bahwa poliester yang dihasilkan lebah Colletes sebagai sumber terpenting dalam upaya membangun ekonomi plastik yang lebih berkelanjutan.
"Penelitian selanjutnya perlu menyelidiki sumber kemampuan penguraian yang luar biasa dari material ini," pungkas tim peneliti.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dalam merancang poliester generasi berikutnya. Material tersebut diharapkan memiliki karakteristik menyerupai polietilena, tetapi tetap mampu terurai secara alami.
Demikian, lapisan sarang lebah bukan sekadar bagian dari tempat berkembang biak serangga. Material alami tersebut turut menawarkan pelajaran penting bagi pengembangan teknologi plastik yang lebih ramah lingkungan.
Penulis: Chairunisa