- Istana Kepresidenan di Jakarta akan melakukan evaluasi besar-besaran setelah Presiden Prabowo Subianto disadap oleh jenderal bintang empat.
- Menko PMK Sugiono menyatakan pada Rabu (4/11/2026) bahwa insiden penyadapan internal ini mengarah pada dugaan insubordinasi pemerintahan.
- Pemerintah mendalami cara pengamanan siber ditembus hingga komunikasi kepala negara dapat didengar oleh eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Suara.com - Istana Kepresidenan tidak tinggal diam mengetahui orang nomor satu ternyata menjadi korban penyadapan oleh polisi aktif jenderal bintang empat. Evaluasi besar-besaran sudah terkonfirmasi bakal dilakukan.
"Pasti. Pasti ada evaluasi," kata Menko PMK sekaligus Sekjen Partai Gerindra Sugiono di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Istana sendiri saat ini tengah mendalami, mengapa kemudian pengamanan siber terhadap Presiden Prabowo Subianto bisa ditembus sehingga percakapan komunikasi kepala negara bisa sampai terdengar eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Terlebih, Listyo yang sebulan terakhir menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) berkantor dekat dengan Prabowo, yakni di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
"Itu juga yang sedang kita dalami. Dan itu tadi, kalau disebut kebobolan, ya ini dari dalam sendiri, kan? Gitu, kan? Dari dalam pemerintahan sendiri, makanya itu yang saya bilang, ini bisa saja diterjemahkan sebagai suatu insubordinasi yang mengarah," kata Sugiono.
Sementara itu, ditanya mengenai siapa yang bertanggung jawab terhadap keamanan siber seorang presiden, Sugiono tidak menjawab lugas.
Ia sebatas menegaskan bahwa ada perangkat yang tentu melakukan pengamanan.
"Saya kira perangkat Istana juga sudah ada, ya," kata Sugiono.
Sugiono lantas berbicara mengenai penguatan kebijakan siber sebagai salah satu bagian dari evaluasi.
"Saya kira itu juga jadi bahan evaluasi, ya. Tapi undang-undang yang ada mengatakan bahwa penyadapan ini kan juga merupakan sesuatu yang tidak mudah, harus ada alasan di balik itu, proses penyelidikan yang dilakukan. Dan kita akan lihat lagi evaluasi, monitoring," kata Sugiono.