Suara.com - Sampah plastik bernilai ekonomi rendah masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan. Kantong plastik, gelas sekali pakai, hingga styrofoam kerap sulit didaur ulang dan berakhir sebagai limbah. Salah satu upaya pemanfaatannya adalah mengolah sampah plastik menjadi minyak melalui teknologi pirolisis.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan katalis berbasis bentonit lokal teraktivasi garam untuk meningkatkan hasil sekaligus memperbaiki kualitas minyak dari proses tersebut. Inovasi ini juga diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya mineral yang tersedia di daerah.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan bahwa salah satu tantangan pirolisis adalah kualitas minyak mentah yang dihasilkan. Pirolisis merupakan proses penguraian plastik melalui pemanasan tanpa oksigen. Hasilnya berupa minyak yang masih berwarna gelap, agak asam, dan kental sehingga perlu diolah lebih lanjut.
"Fungsi katalis dalam bahasa sederhana adalah pembersih sekaligus pendongkrak minyak," kata Nugroho dalam kegiatan verifikasi lapangan usulan Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya BRIN, Senin (26/10).
Rendemen Bahan Bakar Cair Meningkat
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nugroho bersama tim mengembangkan bentonit, material lempung alami, menjadi katalis. Material ini melalui proses pengeringan, aktivasi menggunakan garam, dan kalsinasi sebelum digunakan dalam pengolahan minyak hasil pirolisis.
Hasil uji laboratorium menunjukkan penggunaan katalis meningkatkan rendemen bahan bakar cair dari 68 persen menjadi 82 persen. Pada pengolahan 50 kilogram sampah plastik, peningkatan tersebut setara tambahan sekitar tujuh kilogram produk berdasarkan perhitungan hasil pengujian.
Katalis juga membantu memperbaiki sejumlah karakteristik minyak. Warna produk berubah dari ASTM 3,2 menjadi ASTM 2, sedangkan angka asam turun dari 0,04 menjadi 0,02 miligram KOH per gram. Pengujian juga menunjukkan penurunan viskositas dan kandungan sulfur.
Meski demikian, bahan bakar cair bernama Petasol tersebut belum memenuhi seluruh spesifikasi Solar 48. Produk ini memenuhi enam dari tujuh parameter pengujian. Salah satu parameter yang belum sesuai adalah densitas, yang tercatat 806,4 kilogram per meter kubik, di bawah batas minimum 815 kilogram per meter kubik.
Karena itu, pengembangan lebih lanjut masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas produk.
Manfaatkan Bentonit Lokal dari Banjarnegara
Inovasi ini turut mengandalkan bentonit lokal yang tersedia di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pemanfaatannya berkaitan dengan pengembangan teknologi pengolahan sampah plastik yang dilakukan Bank Sampah Banjarnegara pada 2017 hingga 2019.
BRIN kemudian memperkuat pengembangan melalui pendampingan riset, karakterisasi material, pengujian kinerja, serta fasilitasi pengelolaan kekayaan intelektual dan lisensi.
Katalis bentonit lokal teraktivasi garam tersebut telah dilisensikan kepada industri pada 16 April 2026. Kebaruan inovasinya terletak pada penggunaan bentonit lokal yang diaktivasi dengan garam dan melalui metode kalsinasi sebagai katalis untuk meningkatkan rendemen bahan bakar cair hasil pirolisis.
Berpotensi Kurangi Emisi Pembakaran Terbuka
Teknologi ini juga mulai diterapkan di tingkat daerah. Koordinator Bank Sampah Kemijen Bahagia, Kota Semarang, Suparjo, mengatakan pengolahan dilakukan setiap dua hari dengan sekitar 50 kilogram sampah plastik dalam setiap proses.
Minyak mentah hasil pirolisis kemudian diolah menggunakan katalis untuk menghasilkan bahan bakar cair.
Analisis BRIN menunjukkan teknologi ini berpotensi menurunkan emisi setara karbon dioksida hingga 79 persen dibandingkan pembakaran terbuka. Namun, besarnya penurunan emisi dalam penerapan nyata tetap bergantung pada kondisi proses dan metode perhitungan.
BRIN selanjutnya berfokus mengembangkan katalis berbahan lokal agar teknologi pengolahan sampah plastik berpeluang diterapkan di berbagai daerah. Penerapannya juga membuka peluang kolaborasi dengan mitra, termasuk bank sampah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Ke depan, kami merencanakan penggunaan katalis lokal agar teknologi ini dapat dimanfaatkan di berbagai daerah di Indonesia," kata Nugroho, dikutip dari laman BRIN, Kamis (29/10).
Penulis: Chairunisa