/
Selasa, 29 November 2022 | 08:31 WIB
Presiden Joko Widodo atau Jokowi bertemu relawan nusantara bersatu di GBK (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym)

Di ujung masa jabatannya, Jokowi dinilai malah sibuk mempromosikan calon presiden favoritnya. Hal tersebut dianggap tidak penting oleh sebagian orang.

Penasehat Wakil Presiden RI 2009-2014 bidang Telaah Strategi Abdillah Toha salah satunya yang merasakan gejolak sikap Jokowi belakangan ini.

Daripada melakukan hal yang kurang penting, mantan anggota DPR RI Daerah pemilihan Banten 2, periode 2004-2009 asal PAN ini mendorong, agar Presiden Jokowi lebih baik kembali bekerja untuk negara.

“Sayang sekali presiden kita. Di ujung masa jabatannya, bukannya menuntaskan masalah penting penegakan hukum yang morat marit, tapi malah makin banyak berpolitik memasarkan calon favoritnya sebagai presiden 2024,” cuitnya di akun Twitter @AT_AbdillahToha dikutip pada Selasa, (29/11/2022).

Ditambah lagi, kehadiran Jokowi di tengah masyarakat dengan membicarakan sosok capres, seolah-olah Jokowi sedang menjegal lawan politik yang lain.

“Legacynya sebagai negarawan makin merosot,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi berulang kali lakukan 'endorse' bakal calon presiden 2024 di beberapa kali kesempatan, baik secara implisit maupun eksplisit. Terakhir, Jokowi kembali membuat heboh publik lewat pernyataanya soal ciri pemimpin yang memikir rakyat. Sosok tersebut diduga kuat mengarah kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo

Ray Angkuti menyebut bahwa presiden pun memiliki hak untuk melakukan kampanye, namun ada tata cara tersendiri yang diatur oleh Undang-Undang dan secara etik.

Sehubungan dengan sikap endorse Jokowi tersebut, Ray Angkuti menilai bahwa Jokowi terlalu vulgar.

Baca Juga: Tablet Huawei MatePad 11 Versi 6/64GB Dirilis ke Indonesia

"Jadi kalau kita berbicara sekarang dengan seringnya pak Jokowi mengendorse nama-nama orang, saya pikir terlalu banyak dan terlalu vulgar," ungkap Ray Angkuti dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Senin (28/11/2022).

"Sebetulnya secara etik sudah tidak tepat lagi apa yang dilakukan oleh pak Jokowi itu," sambungnya.

Menurutnya, Jokowi ingin segala hal yang telah dicapai olehnya selama dua periode itu tidak ingin hilang begitu saja pada Pilpres 2024 mendatang.

"Karena ada kandidat yang dipersepsikan akan mengoreksi banyak sekali kebijakan-kebijakannya yang sudah dilakukan oleh pak Jokowi," jelas Ray Angkuti.

Load More