/
Selasa, 17 Mei 2022 | 14:44 WIB
Museum Mini Santa Maria

Metro, suara.com-  Klinik Santa Maria, Kota Metro bisa disebut sebagai "saksi bisu" perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan di Lampung.

Kandungan sejarah klinik (kini rumah sakit bersalin) itu tidak lepas dari nilai-nilai universal; kemanusiaan. Diorama berupa infografis terbentang di ruang sayap kanan Rumah Sakit Bersalin (RSB) Santa Maria.

Infografis itu merunutkan perjalanan panjang awal mula berdirinya Santa Maria pada masa kolonial Belanda.

Ruangan tersebut kini dialihfungsikan menjadi museum mini tentang sejarah Santa Maria dan penyebaran agama Katolik di Kota Metro.

Sejumlah alat kesehatan seperti insulin kuno yang berukuran besar, stetoskop, inkubator bayi dan alat persalinan masih terawat. Dari hasil telaah dan penelitian terhadap arsip dan dokumen Santa Maria, memiliki nilai tersirat yang maknanya lebih luas dibanding misi penyebaran agama khas bangsa Eropa pada masa penjajahan. Nilai itu kini populer disebut kemanusiaan, keberagaman dan toleransi.

Guide Metro Walking Tour dan Sejarahwan Kota Metro, Adi Setiawan mengungkapkan, berkembangnya agama Katolik di Kota Metro ini berkelindan dengan tingkat kesehatan warga kota. Kala itu warga kota merupakan kolonis yang didatangkan Pemerintahan Belanda dari Pulau Jawa.

"Klinik Santa Maria ini pertama kali berdiri bernama Saint Elisabeth yang dibangun oleh pemerintahan Belanda untuk para kolonis dari Pulau Jawa," kata Adi usai peresmian Museum Mini Santa Maria, Sabtu (12/2/2022).

Ketika itu pula, wilayah Kota Metro yang awalnya hutan belantara terserang wabah malaria. Saat itu sebenarnya sudah ada gereja yang dibangun oleh pemerintahan Belanda untuk misi penyebaran agama.

Namun, karena kondisi kesehatan masyarakat yang buruk membuat para suster ikut membantu perawatan pasien 

"Seiring berjalannya waktu, makin banyak pasien, terutama para kolonis (transmigran), terutama saat itu wabah malaria," kata Adi.

Wali Kota Metro, Wahdi mengatakan, Santa Maria adalah bukti bagaimana toleransi dan kemanusiaan berdiri di atas segala nilai, yang ketika itu adalah misi penyebaran agama Katolik.

"Ini adalah bukti identitas Kota Metro, bukti sejarah Kota Metro menjunjung toleransi dan keberagaman," kata Wahdi.

Purna

Load More