Pada tahun 1951 dr. Y. Leimena dan dr. Abdoel Patah memperkenalkan konsep Bandung Plan dalam Konferensi Dinas Kesehatan se-Indonesia yang bertujuan untuk menyusun dasar kesehatan nasional yang juga mencakup berbagai permasalahan kesehatan yang dihadapi pemerintah saat itu seperti pemberantasan penyakit menular (cacar, framboesia, pes, malaria, kusta, kelamin, tuberkulose) dan upaya-upaya dibidang kesehatan rakyat seperti perbaikan gizi, penyuluhan kesehatan, dan kesehatan ibu dan anak.
Bandung Plan sendiri adalah konsep pelayanan yang menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif sekaligus menjadi salah satu perkembangan penting bidang kesehatan paska kemerdekaan Indonesia. Bandung Plan sendiri kemudian dikembangkan menjadi “Leimena plan” yang merupakan cikal bakal dari apa yang kita kenal sekarang dengan Puskesmas.
Pada dekade 50-an penyakit Malaria tengah mewabah di Indonesia dan menjangkiti hampir semua masyarakat di seluruh negeri tak terkecuali di Metro. Menteri Kesehatan Johannes Leimena yang menjabat sejak 1947-1956 dalam bukunya Kesehatan Rakjat di Indonesia: Pandangan dan Planning (1955:37) menuliskan bahwa sekira 30 juta penduduk dilaporkan terjangkit malaria setiap tahun dan rata-rata 120 ribu orang di antaranya meninggal dunia. Pemerintah segera melakukan pemberantasan masif dengan melakukan beragam upaya untuk membasmi Malaria.
Pemerintah gencar melakukan upaya pembasmian malaria yang menyerang rakyat di daerah-daerah produktif (Departemen Kesehatan, 1980:111). Surat kabar De locomotief yang terbit pada 20 Februari 1953 mengabarkan wabah malaria menyerang daerah-daerah yang baru dibuka, sehingga masyarakat tidak berani bermukim di daerah tersebut.
Menteri Kesehatan Leimena dalam bukunya Kesehatan Rakjat di Indonesia: Pandangan dan Planning (1955 : 47) menyebut di Metro hingga akhir 1952 sebanyak 333.000 orang mendapatkan perlindungan melalui penyemprotan yang saat itu masih terbatasa menggunakan insektisida. Lewat penyemprotan DDT yang intensif, wabah penyakit tidak lagi terjadi, meski sudah 9.000 orang telah bertransmigrasi di Metro. RSUD A Yani Metro sendiri telah mulai beroperasi sejak tahun 1951 dengan nama Pusat Pelayanan Kesehatan (Health Center), yang memberikan pelayanan kesehatan bagi tak hanya masyarakat Metro tapi juga masyarakat di wilayah disekitar Metro. Berkat usaha penyemprotan yang massif angka rawat jalan menunjukkan bahwa pada tahun 1952 kasus malaria turun dari 25,9% menjadi 14,6%.
Selanjutnya pada tahun 1956 didirikanlah proyek Bekasi oleh dr. Y. Sulianti di Lemah Abang,. Proyek ini melahirkan model pelayanan kesehatan pedesaan dan pusat pelatihan tenaga kesehatan. Selanjutnya pada 1958 didirikan pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat atau Health Centre (HC) di 8 lokasi, yaitu di Indrapura (Sumut), Bojong Loa (Jabar), Salaman (Jateng), Mojosari (Jatim), Kesiman (Bali), Metro (Lampung), DIY dan Kalimatan Selatan. (Kementrian Kesehatan,1980:21). Dari HC inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Puskesmas seperti yang kita kenal saat ini.
Upaya pemberantasan malaria saat itu juga mendorong pemerintah membentuk Dinas Pembasmian Malaria berdasarkan SK Menteri Kesehatan no 199441/UP/Kab tangggal 12 September 1959. Dinas ini berada langsung dibawah Menteri Kesehatan. Presiden Soekarno saat itu secara simbolis melakukan penyemprotan masal di Desa Kalasan, Yogyakarta pada 12 November 1959. Penyemprotan Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) dilakukan secara massal ke rumah-rumah warga di seluruh Jawa, Bali, dan Lampung. Dinas Pembasmian Malaria sendiri pada Januari 1963 berubah menjadi Komando Operasi Pemberantasan Malaria (KOPEM).
Sebelum Lampung menjadi Provinsi pada tahun 1964 statusnya masih berupa keresidenan Provinsi Sumatra Selatan. Sebelumnya Pada zaman penjajahan Belanda Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel bernama Diens Van Gezond Hield (DVG). Paska kemerdekaan Dinas Kesehatan Lampung yang pada waktu itu masih berbentuk kantor keresidenan (DOKARES) berada di bawah naungan Provinsi Sumatra Selatan. Selanjutnya pada tahun 1958 dengan segala persiapan yang ada, di bentuklah Kantor Pengawasan Jawatan Kesehatan Rakyat/Impek Kesehatan (INKES).
Bangunan cagar budaya Health Center (HC) yang kini difungsikan menjadi Kantor RSUD A Yani sendiri diperkirakan mulai dibangun sekitar antara tahun 1958-1960an sebagai wujud implementasi Bandung Plan. Sayangnya hingga saat ini belum ditemukan baik arsip, foto atau dokumen tertulis yang menunjukan secara pasti kapan bangunan ini mulai dibangun. Seperti dijelaskan dalam buku Sejarah Kesehatan Nasional Volume 2 HC Metro juga merupakan satu dari delapan proyek percontohan yang dibangun pada masa itu (1980:21). Health Center yang dibangun di depan Kantor Dinas Kesehatan Rakyat (DKR) Lampung Tengah yang sekarang menjadi Kantor Dinas Kesehatan Kota Metro. Selain membangun HC pemerintah saat itu juga mengadakan kursus kilat Pendidikan Kesehatan pada Rakyat (PKR) guna mematangkan tenaga-tenaga kesehatan yang akan bertugas.
Menurut penuturan para pelaku sejarah baik yang pernah terlibat di HC maupun penuturan warga sekitar pembangunan HC sendiri hampir berdekatan waktunya dengan kantor DKR Lampung Tengah. Pada masa lalu banyak masyakarat menyebut kantor HC ini sebagai Kantor Dokabu atau kependekan dari Dokter Kabupaten. Edi Sutaro (81) warga yang tinggal didepan gedung HC menjelaskan bahwa pembangunan HC sendiri dilakukan dengan menggunakan semen kapur secara berulang-ulang. Edi menceritakan dulunya HC tidak memiliki pagar bangunan sehingga akses masuk menjadi leluasa. Begitupun bagian didalamnya ditata secara sederhana dan luang yakni poliklinik-poliklinik bersekat dan ruang tunggu agar memudahkan akses keluar. Meski demikian keberadaan HC saat itui merupakan salah satu tempat pelayanan kesehatan termegah di zamannya yang melayani pasien tidak hanya dari Metro tapi juga penduduk daerah-daerah di sekitar Lampung Tengah.
Dokter Agus Ramanda (75) yang tinggal persis didepan kantor HC dan juga pernah bertugas di HC pada dekade 1970an menjelaskan Health Centre (HC) saat itu dapat dikatakan setingkat Puskesmas saat ini . Keterangan serupa diperoleh dari seorang bidan senior Bidan Ruqayah (70) yang bertugas sejak tahun 1970 dan pensiun pada tahun 2002 yang menjelaskan dulunya HC berfungsi sebagai poliklinik gigi, poliklinik mata, kesehatan ibu dan anak serta balai pengobatan. Keterangan ini juga berkesuaian dengan keteran Susanto (69) seorang pensiunan Dinas Kesehatan yang sejak kecil tinggal tidak jauh dari HC yang menjelaskan bahwa saat dirinya menginjak SD pada kisaran tahun 1962 gedung HC sudah berdiri dan semasa kecil pernah berobat di HC.
HC Metro pada masanya berperan penting merawat pasien malaria, kematian bayi, Ibu hamil dan berbagai penyakit lainnya dimasa-masa awal kemerdekaan. HC juga bekerjasama dengan Dinas Pembasmian Malaria atau dikenal dengan sebutan Kantor Malaria. Saat Metro memisahkan diri dari Lampung Tengah pada 1999 kantor HC ini juga sempat menjadi kantor Dinas Kesehatan Metro sebelum pindah ke eks Kantor Dinas Kesehatan Lampung Tengah yang berada diseberang bangunan pada tahun 2002.
Bila dilihat bentuknya bangunan health centre Metro menggunakan arsitektur jengki yang dikategorikan sebagai arsitektur modern khas Indonesia. Gaya arsitektur ini tumbuh tahun 1950-an ketika arsitek-arsitek Belanda pulang ke negerinya. Pada eranya hampir semua kota-kota besar di Indonesia memiliki bangunan dengan gaya arsitektur ini. Hadirnya rumah gaya jengki di Indonesia juga dilatarbelakangi oleh munculnya arsitek pribumi yang sebelumnya notabene adalah tukang ahli bangunan pendamping arsitek Belanda.
Sebagai bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada akhir tahun 2021 lalu gedung Health Center (HC) yang kini difungsikan sebagai kantor RSUD A Yani memiliki arti penting mengingat perananya terhadap kesehatan masyarakat Metro saat itu dan merupakan satu dari delapan proyek percontohan Health Center yang dibangun pada era akhir dekade 1950an. HC juga pada perkembangannya menjadi cikal bakal Puskesmas yang masih terus digunakan hingga saat ini.
Heri S Widarto (Anggota TACB Metro)
Berita Terkait
-
Waspada Malaria Monyet Mengintai: Gejalanya Menipu, Bisa Memperburuk Kondisi dalam 24 Jam!
-
Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia
-
3 Tanda Penyakit Jika Demam Naik Turun
-
6 Penyakit yang Sering Muncul saat Musim Hujan, Salah Satunya Influenza!
-
Sejarah Hari Kesehatan Nasional yang Diperingati 12 November, Berawal dari Wabah Malaria
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Nggak Perlu Jastip, Produk Makanan Thailand Kini Bisa Didapat Lebih Mudah di Indonesia
-
Di Tengah Dinamika Gugatan terhadap Media di Sumsel, AJI Palembang Tekankan Pemahaman Sengketa Pers
-
Tren 'Clean Girl' 2026: 5 Sepatu Lari Putih Lokal yang Paling Estetik dan Minimalis
-
5 Sepatu Lari yang Paling Nyaman Dipakai di Aspal Palembang, Bikin Kaki Nggak Cepat Pegal
-
7 Sepatu Lari yang Cocok untuk Cuaca Lembap dan Panas di Kalimantan Barat
-
7 Sepatu Lari Warna Pastel yang Bikin OOTD Olahraga Kamu Makin Cantik di Instagram
-
Pramono Sebut Kelenteng Tian Fu Gong Bisa Jadi Ikon Wisata Religi Jakarta
-
4 Rekomendasi Lampu Sepeda Terbaik 2026 dan Harganya
-
6 Rekomendasi Sepatu Lokal Terbaik Mei 2026: Kualitas Bintang Lima, Harga Juara
-
Bidik Kursi Ketum BM PAN, Riyan Hidayat Tegaskan Tegak Lurus ke Zulhas dan Dukung Program Prabowo