Metro, Suara.com- Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim menetapkan Lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan dan Lukisan Prambanan/Seko karya S. Sudjojono sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek, Nomor 415/M/2022 tanggal 25 Oktober 2022.
Saat ini lukisan Pengantin Revolusi dan lukisan Prambanan/Seko saat ini disimpan dan menjadi salah satu koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta.
Lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan yang dilukis tahun 1955 merupakan salah satu karya terbaiknya. Lukisan Pengantin Revolusi menggambarkan suatu peristiwa di mana ia mengalami sendiri kejadian pada lukisan yang dibuatnya (Pengantin Revolusi).
Lukisan Pengantin Revolusi hadir pertama kali di hadapan publik pada tahun 1957 di Hotel Des Indes, Jakarta. Mengutip Keputusan Mendikbudristek Nomor 415/M/2022, sketsa lukisan ini dibuat Hendra Gunawan dari tahun 1945 dan terinspirasi dari rekaman peristiwa pernikahan di suatu tempat di Karawang, Jawa Barat. Pengantin perempuan dan laki-laki dalam lukisan tersebut adalah orang biasa, tapi kostum pernikahan mereka yang tidak biasa. Jaket pengantin pria adalah jaket tentara, sementara gaun pengantin perempuan adalah kostum yang dipinjam dari penari topeng Betawi. Pengantin pria mendorong sepeda dan pengantin perempuan duduk diatas rangka besinya. Pasangan pengantin ini diikuti oleh arak-arakan sekelompok orang dan pemain tanjidor yang menjadi pusat perhatian para pejuang kemerdekaan, termasuk Hendra Gunawan sendiri.
Hendra Gunawan sendiri lahir pada tanggal 11 Juni 1918 di Bandung, Jawa Barat dan meninggal pada tanggal 17 Juli 1983 di Bali. Belajar melukis setelah lulus SMP dan mengikuti Sanggar Abdullah Suriosubroto di Bandung. Hendra Gunawan kemudian bergabung ke Sanggar Wahdi Sumantra, seorang pelukis yang pernah berguru ke Sanggar Abdullah Suriosubroto. Di Sanggar Wahdi, Hendra bertemu dengan Affandi, Barli, dan Sudarso yang sepakat membentuk Kelompok Lima pada tahun 1938.
Lukisan Prambanan/Seko karya Sindoedarsono Sudjojono menggambarkan seorang “seko” (berasal dari bahasa Jepang yang artinya prajurit pelopor), prajurit lini depan yang membuka jalan, yang sedang mengintai di jalan masuk ke Yogyakarta, di sekitar jalan Prambanan.
Lukisan ini menampilkan realitas perang di garis belakang persiapan perang gerilya, penyusunan strategi atau penangkapan mata-mata. Menurut Keputusan Mendikbudristek Nomor 415/M/2022, pelukis membuat lukisan ini menggambarkan sebuah peristiwa yang terjadi pada saat perang gerilya antara tahun 1946-1949.
S. Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara, pada bulan Mei 1913 dan wafat pada tanggal 25 Maret 1986 di Jakarta. Merupakan pelukis legendaris Indonesia dan dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena S. Sudjojono merupakan seniman pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. S. Sudjojono adalah perupa yang sering dengan berjalannya waktu selalu kreatif, tidak pernah berhenti di satu gaya atau tema. Selain sebagai pelukis, S. Sudjojono dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Objek lukisannya lebih menonjol kepada kondisi faktual bangsa Indonesia yang diekspresikan secara jujur apa adanya.
Baca Juga: Masterpiece Auction House Singapura Lelang Lukisan Affandi dan Basoeki Abdullah
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Terkini
-
Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS, PBNU: Ini Premanisme Politik!
-
Setelah Meja Biliar Disorot, Ini Sederet Anggaran Rumah Dinas Pimpinan DPRD Sumsel Berbiaya Mewah
-
Pemudik Mulai Masuk Yogyakarta, Pengguna Commuter Line Tembus 22 Ribu Orang per Hari
-
Bye-bye Velocity! Mengapa Tren "Natural" D'Masiv Gantikan "Dung Tak Dung" di Momen Ramadan 2026
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Mengenal Yayasan Bunga Kemboja, Benarkah Vidi Aldiano Mendaftar Jadi Anggota Sebelum Meninggal?
-
Fabio Lefundes: Menurut Kalian, Apakah Persib Bandung Punya Kualitas yang Buruk?
-
Promo JSM Alfamart Diperpanjang, Minyak Goreng 2 Liter Cuma Rp30 Ribuan
-
Viral Lele Mentah, SPPG di Pamekasan Boleh Beroperasi Kembali jika Sudah Ada Perbaikan
-
Saham Energi Bersih Dinilai Menjanjikan di Era Transisi Energi