/
Jum'at, 20 Januari 2023 | 15:45 WIB
Presiden Joko Widodo atau Jokowi berdialog dengan seorang pedagang Pasar Airmadidi di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (19/1/2023) ((Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden))

Survei kepuasan terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo belakangan masih tinggi, bahkan mencapai 80 persen. 

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyebutkan bahwa survei-survei yang ada bisa jadi adalah bentuk dari mobilisasi yang sengaja untuk mengelu-elukan Jokowi

"Kan sensor dia [Jokowi] sebagai pemimpin kan dia harusnya paham sadar gitu bahwa dia kehilangan akses etis pada rakyat, akses politik dari partianya sendiri," ujar Rocky Gerung di kanal YouTube miliknya. 

"Jadi semua hal itu ditunjukan dengan data dan boleh saja dimaniulasi survei dengan elektabilitasnya 80 persen, tapi dompet ema-emak enggak bisa bohong," imbuhnya. 

Lebih lanjut jika Jokowi ingin pamer soal kepuasannya, maka hal tersebut malah bisa membatalkan citra yang dia inginkan di akhir masa jabatan. 

"Kalau mau jagoan arogan, ini yang akan membatalkan citra dia ke depan bilang aja dia enggak mampu, harusnya dia mencontoh Presiden Vietanam atau Perdana Menteri Selandia Baru yang berani mundur. 

Rocky menyatakan bahwa ada dugaan pemalsuan-pemalsuan data yang sengaja mengangkat tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi. 

Dalam hal ini, Rocky mencontohkan apa yang terjadi pada presiden-presiden Indonesia sebelumnya. 

"Ini pemalsuan-pemalsuan ini kita sudah tahu bahkan di zaman Bung Karno dielu-elukan bilang presiden seumur hidup, seluruh rakyat diorganisir tiba-tiba jatuh," ujar Rocky Gerung. 

Baca Juga: 4 Fakta Menarik tentang Turnamen India Open 2023, Tuan Rumah Nir Gelar!

"Kemudian Pak Harto, tuh jadi Pak Harto elektabilitas 80 persen 78 persen dalam dua bulan Pak Harto jatuh, jadi moral politiknya ini ya kepekaan pemimpin enggak ada dukungan lagi dari rakyat," tuturnya.  

Load More