Dokter Tifa alias Tifauzia Tyassuma, pengguna media sosial yang sohor berkat konten-konten kontroversial, pada pekan ini menyindir Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono terkait gempa Turki.
Menurut Dokter Tifa, gempa Turki disebabkan oleh HAARP atau High Frequency Active Auroral Research Program, yang diklaimnya sebagai teknologi senjata Amerika Serikat yang mampu menyebabkan gempa Bumi.
Dokter Tifa bahkan mengindikasikan bahwa Gempa Aceh pada 2004 lalu juga disebabkan oleh HAARP.
"Mana orang BMKG @DaryonoBMKG yang kemarin bully saya? Ilmu mu kurang jauh, mas. Sana belajar HAARP sama Profesor Haluk Özdil," tulis Dokter Tifa di Twitter pada Rabu (8/2/2023), sembari menyebut akun Twitter Daryono.
Ia juga mengunggah video dari Youtube Haluk Ozdil, yang diklaimnya sebagai profesor. Daryono sendiri adalah salah satu pakar kegempaan BMKG yang menempuh pendidikan di kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia, UGM dan Universitas Udayana.
Berdasarkan penelesuran Suara.com, Haluk Ozdil bukanlah peneliti atau profesor seperti diklaim Dokter Tifa. Ia adalah penulis dan sudah menerbitkan sejumlah buku dengan tema-tema kontorversial, antara lain tentang teori konspirasi di sekitar Hitler.
Ia juga mengelola kanal Youtube dengan lebih dari 250.000 subscriber. Konten-konten di dalamnya juga unik. Antara lain menghubungkan antara kapal perang Amerika Serikat dengan Gempa Turki, illuminati, dan daftar pemimpin dunia yang dikendalikan oleh reptil.
HAARP sendiri adalah sebuah penelitian atau riset tentang ionosfer yang didukung oleh militer Amerika Serikat dan Universitas Alaska.
Tujuan riset ini adalah untuk mempelajari dinamika ionosfer dan menggali potensi untuk mengembangkan teknologi komunikasi radio dan pemantauan.
Salah satu perangkat terpenting dari riset ini adalah Ionospheric Research Instrument atau IRI yang terletak di Alaska. Perangkat ini terdiri dari 180 antena di lahan seluas ratusan hektare yang bisa mentransmisikan gelombang radio frekuensi tinggi ke atmosfer.
Para ilmuwan kemudian akan mengamati reaksi yang terjadi di ionosfer akibat paparan gelombang frekuensi tinggi tersebut. Reaksi ini mirip dengan proses paparan badai Matahari yang memicu aurora karenanya eksperimen ini disebut aurora buatan, tetapi dengan skala lebih kecil.
Informasi tentang HAARP terbuka dan bisa diakses oleh publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Kondisi TKP Kontrakan Cucu Mpok Nori yang Diduga Dibunuh eks Suami, Barang-barang Masih Berantakan
-
Daftar 10 Mobil Listrik Terlaris Februari 2026 BYD, Pendatang Baru Mulai Curi Perhatian
-
Arus Balik Lebaran 2026 Membludak, KAI Cirebon Berangkatkan 12.068 Penumpang Sehari
-
Hindari Macet, Kapan Waktu Terbaik Berangkat Arus Balik agar Sampai di Jakarta Pagi Hari?
-
Turki Usulkan Gencatan Senjata Sementara di Timur Tengah, Dorong Negosiasi Damai
-
Penampilan Ahmad Assegaf Tanpa Tasya Farasya Bikin Pangling: Dulu Berasa Raja Dubai
-
Pramono Anung Resmi Terapkan WFA ASN Usai Lebaran, Presensi Daring Wajib Tanpa Bolos
-
Jasa Marga Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 di GT Cileunyi, Ini Strateginya
-
Promo Superindo Terbaru 24 Maret: Susu, Frozen Food, dan Aneka Isi Kulkas Diskon hingga 35 Persen
-
Rudal Kiamat Iran Hantam Israel Pagi Ini, Ledakan Dahsyat Guncang Yerusalem