/
Minggu, 03 September 2023 | 10:43 WIB
Prabowo Subianto ((Instagram/@prabowo))

Prabowo Subianto, calon presiden potensial dari Koalisi Indonesia Maju (KIM),  menganggap berpalingnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke Koalisi Perubahan merupakan sebuah proses demokrasi yang wajar.

Menurut Prabowo, rakyat sebagai pemilih akan menjadi penilai utama yang akan memilih pemimpin mereka untuk lima tahun ke depan saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

"Demokrasi adalah suatu proses diskusi, bertemu, kadang-kadang berpisah, ya. Santai saja. Kita berbuat yang baik untuk rakyat, rakyat yang menilai. Rakyat menilai setiap perbuatan, setiap ucapan, dan rakyat tidak bodoh. Rakyat tidak bisa dibohongi. Semuanya kami serahkan kepada rakyat," kata Prabowo di Jakarta, dikutip Minggu (3/9/2023).

Prabowo juga menegaskan bahwa dia tidak setuju dengan pandangan bahwa Partai Gelora Indonesia bergabung dengan KIM sebagai pengganti PKB yang keluar dari koalisi Kebangkitan Indonesia Raya. 

Ia mengatakan dalam demokrasi tidak ada tempat bagi perasaan sakit hati atau dendam.

"Demokrasi itu tidak ada lara-laraan. Nggak ada lara-laraan. Tidak ada pelipur-pelipuran," ucap Prabowo dengan tegas.

Selama acara deklarasi bersama partai Gelora Indonesia, Prabowo juga beberapa kali menggunakan istilah "pengkhianatan," meskipun dia menegaskan bahwa ini bukan ditujukan kepada PKB. 

Prabowo Subianto, yang telah menyatakan diri sebagai calon presiden dalam Pilpres 2024, saat ini mendapatkan dukungan dari Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, Partai Bulan Bintang, dan Partai Gelora Indonesia. Saat ini, partai-partai yang mendukung Prabowo dan bergabung dalam Koalisi Indonesia Maju.

Baca Juga: David da Silva: Persib vs Persija Adalah Laga Panas

Load More