Suara.com - Seorang ayah di Jerman dilarang menamai anaknya "Wikileaks" karena pemerintah khawatir masa depan bayi baru lahir tersebut akan suram.
Hajar Hamalaw, wartawan yang meninggalkan Irak pada 2000 dan kini menetap di Passau, Jerman, tadinya ingin menamai puteranya "Wikileaks" karena organisasi itu banyak berpengaruh dalam hidupnya.
"Ini bukan nama biasa bagi saya, ia punya arti besar. Wikileaks telah mengubah dunia," kata ayah berusia 28 tahun itu.
"Bagi keluarga saya nama itu sinonim dengan kebenaran yang transparan. Puteri saya dinamai 'Diya' yang artinya cahaya kebenaran," imbuh dia.
Tetapi sayang kemauannya itu ditentang oleh pihak kantor catatan sipil Passau, sebuah kota konservatif di negara bagian Bavaria, Jerman.
"Dalam sebuah sesi pertemuan awal, kami sudah mengatakan kepada keluarga itu bahwa kami harus menolak nama tersebut karena mempertimbangkan keputusan-keputusan pengadilan sebelumnya," kata Karin Schmeller, juru bicara kota Passau.
Jerman memang tidak punya aturan yang melarang orang tua memberi nama tertentu untuk anak-anaknya, tetapi pengadilan bisa saja melarang nama tertentu jika dinilai membahayakan kesejahteraan anak di masa depan.
Sebelumnya pengadilan di Jerman pernah melarang sejumlah orang tua memberi anak mereka nama kontroversial seperti McDonald, Woodstock, Gramophon, dan Pappermint.
Adapun Hamalaw dan istrinya kemudian sepakat untuk mengubah nama putera mereka menjadi "Dako" di akta kelahirannya, tetapi para sahabat dan keluarga tetap menggil bocah kecil itu Wikileaks. (NBC News)
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Sebut Sumbar dan Jabar Suku Barbar, Abu Janda Resmi Dilaporkan ke Bareskrim!
-
Berkedok Toko Kosmetik, Dua Pengedar 210 Ribu Butir Obat Keras di Bekasi Diciduk Polisi
-
Jakarta Siaga Hantavirus: 4 ABK dari Somalia Masuk RSUD Cengkareng, Begini Kondisinya
-
Heboh Begal Pocong, Sosiolog UGM Ingatkan Publik Jaga Nalar: Ini Cipta Kondisi Ala Orba
-
Bakal Salat Idul Adha di Wisma KBRI Paris, Ini Agenda Kunjungan Prabowo di Prancis
-
68 Ribu Hewan Kurban Disembelih di Jakarta, Bagaimana Pemprov DKI Pastikan Dagingnya Aman?
-
Usut Suap Bea Cukai, KPK Bedah Misteri Kontainer yang Mengendap 30 Hari di Tanjung Emas
-
Kabar Gembira! 93 Sekolah Rakyat Rampung Juni, Gus Ipul Siapkan Lowongan bagi 8.000 Tenaga Pendidik
-
Tepis Isu Pesanan, Dasco Tegaskan Revisi UU Polri Bukan Demi Jabatan Kapolri
-
Konflik Papua Tak Kunjung Usai, Komnas HAM Desak Tiga Pihak Ini Segera Duduk Bersama