Suara.com - Joshua Wong Chi-fung, demikian nama remaja bertubuh ceking ini. Dengan raut wajah lugu, kacamata tebal dan poni menutup dahi, tak ada satupun kesan yang menyiratkan bahwa remaja ini adalah seorang pemimpin unjuk rasa besar-besaran yang berlangsung di Hong Kong sejak Jumat pekan lalu.
Joshua Wong, begitu ia lebih akrab disapa. Remaja 17 tahun ini merupakan salah satu motor penggerak massa pelajar yang turun ke jalanan di tengah maraknya "Revolusi Payung" di kota niaga tersebut. Joshua pulalah, salah satu sosok yang paling lantang menentang keputusan pemerintah Cina daratan yang membatasi hak warga Hong Kong untuk memilih pemimpinnya sendiri.
Joshua kerap tampil di garis depan, berorasi untuk membakar semangat para demonstran pelajar yang ada di belakangnya. Dalam demo Jumat pekan lalu misalnya. Dengan suara yang cempreng dan logat Kanton yang kental, Joshua berhasil membujuk rekan-rekannya untuk tetap bertahan di depan kantor pemerintahan di kala mereka mulai membubarkan diri.
Akibat aksinya itu, Joshua ditahan bersama 78 aktivis lainnya oleh pihak berwajib. Hanya dirinyalah yang ditahan selama dua hari sampai dibebaskan pada Minggu (28/9/2014) petang.
Bagi para demonstran, Joshua dianggap sebagai nafas perjuangan sekaligus simbol perlawanan terhadap pemerintah. Namun, mereka yang pro-pemerintah menganggapnya sebagai seorang ekstrimis.
Sebenarnya, Joshua bukan wajah baru di kalangan aktivis pejuang demokrasi. Sudah sejak tiga tahun silam dirinya memperjuangkan hak-hak pendidikan pelajar Hong Kong. Bersama rekan sekolahnya Ivan Lam, Joshua mendirikan Sholarism, sebuah kelompok aktivis khusus pelajar.
Namun, sosoknya mulai jadi perhatian ketika pada tahun 2012 dirinya memimpin unjuk rasa menentang rencana pemerintah menggunakan skema pendidikan nasional pro-Cina di sekolah-sekolah Hong Kong. Kala itu, sekitar 120 ribu pelajar dan para orang tua mengepung gedung pemerintahan dan memaksa mereka membatalkan rencana tersebut.
"Saya harap saya bisa memiliki masa depan yang lebih baik dan saya memiliki hak untuk memilih masa depan saya sendiri di Hong Kong," ujar Joshua dalam sebuah wawancara dengan Reuters.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Puluhan Warga Inggris Korban Wabah Hantavirus Kapal Pesiar Diisolasi Ketat
-
Analis Intelijen Barat Puji Iran Tetap Kokoh Meski Selat Hormuz Digempur AS
-
Respon Iran Atas Tawaran Damai AS Masih Misteri, Tenggat Waktu Marco Rubio Habis
-
Rudal Iran yang Dipakai Serang Kapal Amerika Ternyata Bertuliskan Pesan Ini
-
Soroti Tragedi Dukono, Ahli Kebencanaan: Gunung Bukan Tempat Cari Konten, Zona Bahaya Itu Garis Maut
-
AS Terbangkan Pesawat Charter Jemput Belasan Penumpang Kapal Pesiar Hantavirus
-
Perang Masih Panas, Donald Trump Urus Hantavirus: Semua Aman, AS Punya Orang Hebat
-
Bocah Perempuan Tewas Ditembak, TNI Buru OPM Pimpinan Guspi Waker di Tembagapura
-
AS Siapkan Karantina Militer di Nebraska Antisipasi Penularan Hantavirus Mematikan dari Kapal Pesiar
-
Putin Isyaratkan Akhir Perang Ukraina, Rusia Buka Dialog Keamanan Eropa