Dari ruang kemudi di bagian atas, langit gelap dan gelombang tinggi cukup membuat ciut nyali siapa saja yang belum terbiasa di laut menghadapi situasi seperti itu.
Saking tingginya deburan gelombang bahkan mampu mencapai kaca ruang kemudi. Air sampai masuk ke dalam kapal hingga menyebabkan korsleting merusak panel listrik mengakibatkan pendingin ruangan dan otomatis pengendali jangkar rusak.
Kondisi membuat perjalanan terganggu karena kapten kapal harus hati-hati agar kapal tidak terbalik dihantam gelombang. Setelah berjalan sekitar 10 jam dan mencapai kawasan Tanjung Selaka, tim akhirnya memutuskan kembali ke posko dengan alasan pertimbangan keamanan.
Tim tidak ingin memaksakan meski diperkirakan sekitar dua jam perjalanan lagi kapal bisa mencapai titik koordinat Gosong Aling, lokasi sasaran pencarian.
"Ini sudah sangat berbahaya, tidak mungkin kita paksakan. Kita tidak bisa juga mengambil risiko karena keselamatan tim juga harus diutamakan," kata Agusto.
Kondisi serupa juga dialami tim lainnya yang mencoba mencapai lokasi melalui jalur laut, bahkan hingga beberapa hari kemudian. Gelombang tinggi menjadi kendala besar pencarian dan evakuasi, khususnya menggunakan kapal.
Pencarian dan evakuasi mulai menunjukkan hasil signifikan setelah menggunakan helikopter, meski itu pun beberapa kali mengalami kendala akibat gelombang tinggi, hujan dan angin sehingga sempat menyulitkan evakuasi.
Armada bantuan pun makin banyak, termasuk dari negara lain yang membawa peralatan canggih. Satu per satu korban dan bagian pesawat ditemukan serta dievakuasi. Tim berharap pencarian dan evakuasi ini bisa segera selesai sesuai harapan semua pihak.
Cuaca Ekstrem Gelombang tinggi yang terjadi saat pencarian sepekan ini memang terbilang lebih ekstrem dibandingkan dengan biasanya. Tinggi gelombang bervariasi antara 2-4 meter sehingga rawan jika dipaksakan, terlebih bagi kapal sejenis tugboat yang sebelumnya juga sempat dikerahkan untuk membantu.
"Gelombangnya memang sangat tinggi. Arus di kawasan itu juga cukup deras sehingga rawan jika kita paksakan untuk melanjutkan perjalanan," ujar Sudarmin, salah seorang kapten kapal tugboat yang sempat ikut melakukan pencarian.
Sudarmin bercerita perairan Selat Karimata hingga Gosong Aling, tempat lokasi korban dan bagian pesawat banyak ditemukan, memang terbilang rawan bagi pelayaran.
Dia mengaku tidak heran jika upaya pencarian dan evakuasi korban AirAsia di kawasan itu cukup terkendala gelombang tinggi, terlebih saat ini memang musim gelombang tinggi.
"Arus di perairan itu juga deras dan memutar, jadi rawan dipaksakan saat cuaca buruk. Beberapa tahun lalu saya pernah menyelamatkan korban kapal, juga di kawasan itu," kata Sudarmin.
Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Landasan Udara Iskandar Pangkalan Bun, Lukman Soleh, mengatakan saat ini memang memasuki musim hujan disertai cuaca buruk seperti gelombang tinggi dan angin kencang.
Awan comulunimbus atau awan hujan berpotensi terbentuk mulai siang hingga malam hari. Kondisi inilah yang bisa menghambat upaya tim gabungan jika di laut terjadi gelombang tinggi diperparah hujan dan angin.
Berita Terkait
-
6 Trik Mengatur Kecepatan Sepeda Listrik agar Baterai Awet Seharian
-
Lebih dari 50 Balita Jadi Korban Penganiayaan, Daycare Little Aresha Ternyata Tak Berizin
-
Survei BI: Penyaluran Kredit Bank Lesu di Kuartal I-2026
-
4 Zodiak Paling Beruntung Hari Ini 26 April 2026, Hoki Besar Menanti!
-
Tembus Miliaran Rupiah! Bedah Detail Koleksi Berlian Syifa Hadju di Momen Siraman hingga Sungkeman
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Belajar dari Kasus Daycare Little Aresha, KPAI: Ortu Wajib Cek Izin dan Latar Belakang Pengasuh!
-
BNI Pastikan Koperasi Swadharma Berdiri Sendiri di Luar Struktur Bank
-
BRIN dan Wanadri Siapkan Misi Selamatkan Terumbu Karang Pulau Buru yang Hancur Akibat Bom Ikan
-
Belajar dari Kasus Little Aresha, Ini 3 Cara Cek Legalitas Daycare dan PAUD Agar Anak Aman
-
Kebakaran Maut di Lubang Buaya: Wanita 53 Tahun Pengidap Stroke Tewas Terjebak Dalam Rumah
-
Gus Ipul: Persiapan Muktamar NU Terus Berjalan, Tim Panel Tuntaskan SK Sebelum Agustus
-
Niat Lindungi Anak dari Amukan Ibu, Anggota TNI Berpangkat Peltu Malah Dikeroyok di Stasiun Depok
-
Pelaku Penembakan Acara Trump Terungkap, Foto Kenakan Kaos IDF Israel Viral
-
Gubernur Pramono Bahas Rencana Konser BTS 2026 Saat Temui Wakil Wali Kota Seoul
-
Candaan Jubir Gedung Putih Viral Usai Insiden Penembakan, Bak Prediksi Masa Depan