Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku senang setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan sistem penetapan anggaran baru berbasis elektronik atau e-budgeting dalam APBD. Sistem ini diyakini bisa menghemat anggaran sekaligus mencegah rekayasa nilai anggaran.
"Saya senang, ternyata e-budgeting kami yang sudah ingin kami lakukan di 2014 ketika Pak Joko Widodo masih di sini (Gubernur DKI), akhirnya bisa berjalan dan bisa membuat sebuah transparansi sistem," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (27/2/2015).
Ahok mengungkapkan setelah sistem e-budgeting diterapkan, tidak ada lagi anggota DPRD yang bisa menitipkan tender atau pengadaan barang kepada satuan kerja perangkat daerah.
"Selama ini kan bisa disodori oleh oknum DPRD, terpaksa harus ngisi tanpa tertulis, setelah ada e-budgeting mereka tidak bisa mengisi, dan sekarang kita senang waktu mereka gak bisa ngisi ternyata DPRD ngisi sendiri, ada tanggapannya ada tandatangan, dan keluarlah (hasil pembelian)," kata Ahok.
"Waktu e-budgeting 2014 kan nolak ngisi, saya dengan sabar nunggu begitu saya lapor Pak Jokowi, saya bilang tunggu aja dia tidak ada satuan sampai selesai 2014. Setelah selesai 2014, saya masukin sistem keluarlah ketahuan beli UPS (uninterruptible power supply), 1 sekolah dianggarkan 6 miliar, yang benar saja," Ahok menambahkan.
Dengan sistem e-budgeting, kata Ahok, ia bisa tahu siapa saja orang yang memainkan APBD.
"Di e-budgeting kami ada temuan, anda belajar barang-barang yang tak berguna, jadi di sini saya senang, ternyata e-budgeting sangat membantu," kata Ahok.
Ahok yakni bila Jakarta sukses menetapkan sistem tersebut, seluruh pemerintah daerah akan ikut menerapkan.
"Pak Jokowi juga pengen ini berhasil di seluruh Indonesia menerapkan e-budgeting sehingga Presiden bisa membuat sebuah sistem. Dan pembelian UPS tidak boleh dilakukan di seluruh Indonesia," katanya.
Berita Terkait
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Ahok Ngamuk di Sidang Korupsi LNG Pertamina: Saya Paling Benci Korupsi, Akan Saya Sikat!
-
Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi LNG Pertamina Rp1,7 Triliun, Irit Bicara Saat Tiba di Tipikor
-
Kesaksian Ahok di Kasus Korupsi Pertamina Bikin Geger, Sentil Menteri BUMN
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Soal Dugaan Bobby Nasution Tampar Sopir BUMD, Pengamat: Harusnya Kedepankan Cara Edukatif
-
Pesan Singkat Puan soal Kasus Andrie Yunus: Berikan Proses yang Adil Seadil-adilnya!
-
Iran Ancam Tutup Laut Merah, Apa Dampaknya bagi Dunia?
-
Citra Satelit Ungkap Penghancuran Sistematis Desa Lebanon Selatan Oleh Israel, Ini Wujudnya
-
Dinilai Terlalu Provokatif, Mabes Polri Didesak Usut Dugaan Makar dari Pernyataan Saiful Mujani
-
27 Psikiater Analisis Kondisi Mental Donald Trump, Apa Hasilnya?
-
KontraS Ragukan Motif Dendam Pribadi dalam Kasus Andrie Yunus, Soroti Dugaan Putus Rantai Komando
-
Ironi Ketua Ombudsman Hery Susanto: Jadi Tersangka Kejagung, Padahal Baru Seminggu Dilantik Prabowo
-
Skandal Suaka LGBT, Warga Pakistan dan Bangladesh Ngaku Gay Demi Jadi Warga Negara Inggris
-
Studi Ungkap Cukai RI Gagal Bikin Rokok Mahal