News / Internasional
Rabu, 09 September 2015 | 07:18 WIB
Ilustrasi mayat/ kamar mayat/ jenazah. (Shutterstock)

Suara.com - Niat hati menolong mereka yang butuh bantuan, malah mati sia-sia. Demikianlah nasib seorang guru perempuan asal Amerika Serikat yang tewas dibunuh di Nepal saat menjadi relawan gempa di negeri tersebut.

Dahlia Yehia, (25), dibunuh di Pokhara, sebuah kota di Nepal yang terkenal akan keindahan danau dan pegunungannya. Menurut keterangan dari kepala polisi setempat, setelah dibunuh, mayat Dahlia dibuang ke sebuah sungai.

Yehia adalah seorang guru dari Austin, Texas, Amerika Serikat. Dirinya tiba di Pokhara pada tanggal 4 Agustus lalu untuk membantu korban gempa bumi yang memporakporandakan negeri tersebut. Namun, Yehia dibunuh tiga hari kemudian.

Polisi telah menangkap Narayan Paudel, (30), pemilik rumah penginapan yang disinggahi Yehia. Paudel mengaku membunuh Yehia untuk merampas uangnya. Dengan sebuah palu, Paudel menghabisi perempuan itu lalu melemparkan mayatnya ke Sungai Seti.

Paudel sempat mencoba melarikan diri dari kantor polisi setelah diamankan. Alih-alih berhasil lolos, Paudel malah mengalami patah kaki.

Sampai saat ini, polisi belum menjerat Paudel dengan pasal apapun. Namun, jika terbukti bersalah Paudel bisa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Sementara itu, polisi masih mencari mayat Yehia.

"Kami telah mencari mayatnya selama lima hari," kata kepala polisi setempat, Hari Bahadur Pal.

Polisi menggunakan tambang untuk menuruni tebing dan dasar sungai untuk mencari mayat guru tersebut. (Reuters)

Load More