Suara.com - Svetlana Alexievich, wartawati dan penulis prosa Belarusia, pada Kamis (8/10/2015) memenangkan Nobel Sastra 2015 berkat liputan investigasinya di Rusia. Akademi Sains Kerajaan Swedia, penyelenggara anugerah Nobel, mengatakan karya Alexievich adalah "monumen tentang penderitaan dan keberanian" di era modern.
Alexievich, yang kini berusia 67 tahun, adalah perempuan ke-14 yang pernah memenangkan Nobel Sastra. Sementara menurut The Washington Post, Alexievich adalah jurnalis pertama yang meraih anugerah paling bergengsi dalam dunia sastra itu.
"Karyanya berada di batasan antara gaya dokumenter dan novel, sebuah genre yang belum pernah mendapat penghargaan," kata Bjorn Wiman, editor budaya pada Dagens Nyheter, sebuah harian Swedia.
Salah satu karyanya yang termasyur adalah buku berjudul "War's Unwomanly Face" yang terbit pada 1988. Buku itu bercerita tentang kisah ratusan perempuan yang ambil bagian dalam Perang Dunia II. Buku itu adalah pembuka dari seri "Voices of Utopia", yang menggambarkan kehidupan di Uni Soviet dari sudut pandang individual.
Perempuan yang lahir di Ukraina itu juga menulis kisah-kisah para penyintas perang invasi Uni Soviet ke Afghanistan di periode 1979-1989, dan para korban bencana nuklir Chernobyl pada 1986.
"Ia menciptakan sebuah sejarah berisi emosi - sebuah sejarah pengembaraan jiwa," kata Sara Danius, sekretaris permanen Akademi Sains Kerajaan Swedia.
"Menggunakan metodenya yang luar biasa - yang secara telaten mengkomposisikan suara-suara manusia - Alexievich memperdalam pemahaman kita tentang sebuah era," lanjut Danius.
Danius juga mengatakan bahwa Alexievich menciptakan sebuah genre sastra baru.
"Ia melampui format-format jurnalistik dan mengembangkan karyanya menggunakan genre yang diciptakan penulis lain," lanjut Danius.
Perempuan berdarah Belarusia dan Ukraina itu menetap secara bergantian di beberapa negara seperti Italia, Prancis, Jerman, dan Swedia karena sering dicari oleh pemerintah Belarusia, negara yang pernah berada di bawah Uni Soviet. (Reuters/The Guardian/The Washington Post)
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Pasukan GP Ansor Siap Tindak yang Ganggu Muktamar Ke-35 NU Jombang
-
Kudeta Niger Gagal, Pasukan Pemerintah Melumpuhkan Penyerang Pangkalan Niamey
-
Boni Hargens Soroti Pengangkatan Kapolri sebagai Anggota Kehormatan KSBSI: Bukan Sekadar Seremonial
-
Bukan Ex-Officio! Romli Atmasasmita Tegaskan Status Listyo Sigit di KSBSI Hanya Bentuk Apresiasi
-
Apa Itu Sistem AHWA? Cara Baru Pilih Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-35 Tahun 2026
-
Muktamar ke-35 NU Diwarnai Aksi Protes, Gus Yahya: Saya Mohon
-
Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Senin Besok
-
Gus Ipul Pastikan Forum Muktamar NU Ke-35 Bebas Ubah Keputusan Organisasi
-
Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata
-
Jepang Kirim Pasukan Bela Diri Bantu Meredam Kebakaran Hutan Kalimantan